News - Mentri PPPA Itu Putra Sijabut Asahan...

Mentri PPPA Putra Sijabut Asahan

Budi Santoso yang pernah Sehari Jadi Mentri PP&PA Republik Indonesia tahun 2016 ternyata Putra desa Sijabut Kabupaten Asahan.

Dalam usianya yang masih 20 tahun Budi sudah banyak berbuat berbagai kegiatan positif kemasyaratan khususnya bidang anak dan perempuan.

Mahasiswa UIN Jakarta yang sedang mempersiapkan diri ke International Youth Leader 2020 di Dubai, Uni Emirat Arab bulan Februari mendatang, terus menerus gelisah untuk lebih banyak berbuat bagi Kabupaten Asahan.

Inibabad mempersilakan Budi Santoso untuk memperkenalkan diri sekaligus memaparkan sedikit obsesinya untuk Asahan, berikut ini:




Perkenalkan saya Budi Santoso, akrab dipanggil budi. Putra asli kelahiran desa danau Sijabut tepat nya di kampung Margodadi yang mungkin sebagian besar orang tidak tahu keberadaannya. 

Lahir pada 3 Mei 1999, saat ini saya berumur 20 tahun dan sedang mengenyam pendidikan semester 5 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Yang mungkin bagi teman teman di kampung saya adalah ketidak mungkinan untuk bisa melanjutkan pendidikan tinggi. 

Sejak tahun 2015 waktu itu saya  masih berusia 16 tahun sudah mulai aktif melakukan inisiatif kebaikan dalam rangka berkontribusi untuk daerah. 


Membangun Forum Anak Kab. Asahan sebagai wadah partisipasi anak dan remaja untuk mengadvokasi beberapa isu yang berkaitan dengan anak. 

Berbagai capaian dan agenda pun banyak kami lakukan, tercatat sekitar 500 anak Asahan terkapasitasi dan terlibat berbagai agenda kami. 

Melalui beberapa kegiatan inspiratif seperti jambore anak Asahan, silahturahmi anak Asahan, FAKA Youth Leadership Camp dan lainnya. Forum Anak Kabupaten Asahan pun meraih penghargaan Forum Anak terinovatif seindonesia pada ajang Dafa award Forum Anak Nasional 2017 yang lalu di Pekanbaru.

Mulai tahun 2018 saya  mendirikan sebuah organisasi anak muda di desa yaitu Rumah CaPer sebagai wadah bagi kami untuk berkontribusi di Asahan. 


Kami mendirikan sebuah rumah pemberdayaan untuk anak anak dan remaja di Desa agar berkembang dan bisa berkontribusi juga. Banyak isu yang kami suarakan mulai dari pencegahan perkawinan usia anak, pendidikan, peningkatan Literasi, dan lain sebagainya. Hingga saat ini saya terus konsisten melakukan aktivisme dalam rangka meningkatkan awarenes anak muda untuk ikut berkontribusi menjadi pemuda penggerak perubahan juga.

Hal ini merupakan hasil dari kegelisahan saya terhadap masalah yang ada di lingkungan saya. Dimana banyak  remaja harus menikah di usi anak dan banyak anak anak yang harus putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan nya di tingkat tinggi. 

Selain itu juga banyak permasalahan kaum muda lainnya seperti narkoba, perokok anak dan lainnya.

Saat ini saya gencar menyuarakan pencegahan perkawinan usia anak bersama Rumah CaPer. Banyak temuan temuan yang saya dapatkan selama saya bergerak di Asahan terkait isu perkawinan usia anak.

Ada yang harus menikah di usia 14 tahun bahkan umur 13 tahun sudah harus menikah. Hal ini terjadi lantaran banyak diantara kasus tersebut karena kehamilan dini. Tidak hanya itu faktor ekonomi, putus dari Sekolah juga menjadi sebab perkawinan usia anak di daerah mereka terjadi. 

Tidak satupun cerita dari mereka mengatakan cerita sukses  dari si anak yang di nikahkan atau menikah. Tidak ada dari mereka yang bisa melanjutkan sekolah, apa lagi sampai kuliah. Cita cita pun sirna, kehidupan rumah tangga yang berantakan, ekonomi yang rendah, kekerasan terjadi dalam rumah tangga, bahkan sampai ke tingkat perceraian. 

Mental yang belum siap untuk berumah tangga, emosi yang masih belum stabil, pendidikan yang belum cukup, usia yang belum matang, tidak banyaknya bekal, ekonomi yang memadai, fisik dan reproduksi yang belum siap. Menjadi alasan dampak negatif dari perkawinan usia anak.

Anak punya anak, anak ngurusi anak, tidak lagi perkawinan anak, namun perceraian usia anak, itu yang dikatakan para peserta yang hadir. Miris melihat isu ini ternyata banyak terjadi di belahan bumi asahan. 

Hal ini tentu menjadi penghampat dari tujuan pembangunan manusia, kurangnya SDM yang unggul dan berkualitas, dan hilangnya generasi emas indonesia yang akan menjadi agen perubahan yang akan membawa Asahan ke arah lebih baik.

Perlu upaya dari semua pihak terutama pemerintah untuk serius dalam menangani isu ini. Pembangunan infrastruktur harus dibarengi seimbang dengan pembangunan manusianya juga.  

Pendidikan kunci utamanya, perkawinan usia anak perlu di cegah, narkoba juga mengancam anak bangsa. Orangtua juga harus punya sistem perlindungan ekstra untuk anaknya. Remaja dan kaum muda perlu kesadaran untuk bergerak dan belajar dengan baik.

Sayangnya sampai  saat ini banyak pihak yang masih belum sadar akan dampak perkawinan usia anak, masih belum peduli akan isu ini. Hal ini terlihat dari dianggap lumrah nya perkawinan usia anak di daerah daerah, kehamilan usia dini/anak banyak terjadi pada anak perempuan di desa desa dan daerah dan harus di nikahkan miris sekali. 

Sampai saat ini saya masih belum punya data berapa banya kasus perkawinan usia anak di Asahan. Namu melihat langsung di lapangan bisa di kategorikan banyak. 

Bagi saya isu ini sangat penting diperjuangkan karena dengan anak anak terselamatkan dari perkawinan usia anak, akses pendidikan yang terpenuhi serta potensi mereka dikembangkan maka akan lahir generasi yang berkualitas. 

Asahan khusus akan memiliki generasi yang unggul untuk menyongsong Indonesia emas 2045.

Anak muda memiliki peran penting dalam pembangunan, memberikan kontribusi nyata untuk bangsa. Anak muda hadir memberikan solusi ditengah masyarakat. Tidak hanya pandai berorasi namun berdampak dan menginspirasi. Itulah yang ingin saya capai dengan menjadi anak muda yang punya kontribusi.

Tidak hanya berkontribusi namun juga berusaha  meraih prestasi dan selalu menambah kapasitas diri. 

Alhamdulillah beberapa penghargaan dan prestasi pernah saya dapatkan diantarnya adalah menjadi ikut serta Sehari jadi menteri 2016 di kementerian PPPA RI dimana hanya ada 7 anak yang terpilih se-Indonesia, menerima penghargaan inovator muda SDGPIPE 2018 tingkat Nasional, berkesempatan mengikuti international field training di Kamboja tahun 2019 dan beberapa prestasi lain.  

Saat ini saya tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti kegiatan International Youth Leader 2020 di Dubai, Uni Emirat Arab bulan februari mendatang. 


Prestasi
Selain Sehari Jadi Menteri RI 2016, berikut beberapa prestasi yang sudah saya torehkan:

Sehari Jadi Menteri KPPPA RI 2016
Pemenang Inovator Muda SDGPIPE (Sustainable Development Goals Pemuda Indonesia penggerak perubahan) 2018
Delegasi Indonesian Future Leaders Conference 2018 
Delegasi Forum Anak Nasional 2017
Delegasi International Field Training 2019 di Cambodia
Mahasiswa berprestasi UIN JAKARTA  2018
Juara 1 Lomba News Anchor CBX Competition 2017
Juara 1 Lomba Baca Berita Pekan Raya Jurnalistik 2018