News - Ani Idrus Wartawati Hebat Dari Ranah Minang


Suratkabar Waspada Medan edisi Jumat 9 Februari 2018.


Ada yang berbeda dari Hari Pers Nasional 2018 di Padang, Sumatera Barat. Secara mengejutkan, panitia HPN membagikan buku berjudul sampul '121 Wartawan Hebat Dari Ranah Minang dan Sejumlah Jubir Rumah Bagonjong'.
 
Buku ini disusun dan diedit oleh wartawan senior Hasri Chaniago dengan tim penulis Khairul Jasmi, Eko Yanche Adrie, Syafruddin Al, Hasril Chaniago, Dody Nurja, Firdaus, Indra Sakti Nauli, Aci Indrawadi, Nasrul Azwar, dan Muhammad Bayu Vesky. Di sampul depan, sejumlah wajah tokoh pers tampak menghiasi buku berisi 551 halaman tersebut.
 
Salah seorang tokoh pers wanita yang masuk dalam jajaran yakni nama Hj Ani Idrus pendiri surat kabar Harian Waspada terbitan Medan yang didirikan tahun 1947. Di buku tersebut secara singkat mengulas sejarah masa kecil Bunda Ani (sapaan akrabnya), kiprah jadi wartawan, perjalanan keliling dunia, liputan ekstrim, kancah organisasi, dunia pendidikan, karir politik, sampai asmara dengan suami tercinta, H Mohammad Said (juga pendiri Waspada).
 
Sekilas disebutkan dari pernikahannya dengan Mohammad Said, Ani Idrus melahirkan enam buah hatinya, masing-masing Tribuana Said, Saida Said, Indra Buana, Rayati Syafrin, dan Teruna Jasa Said, dan Prabudi Said. Hasril Chaniago juga menyadur tulisan wartawan kawakan, Rosihan Anwar dalam bukunya In Memoriam:Mengenang Yang Wafat, menyebut Ani Idrus sebagai prototipe wanita Minang : bagak.
 
Dituliskan, beliau seorang wartawan pemberani dengan ciri perempuan Minang, tegas, mandiri, berjiwa pemimpin, dan bagak. Selain wanita hebat kelahiran Sawahlunto, Sumatera Barat 25 November 1918 ini, penulis juga menampilkan sejumlah tokoh pers besar yang juga tokoh nasional. Beberapa di antaranya Haji Agus Salim, pejuang Kemerdekaan, wartawan, dan diplomat ulung.
 
Sebagai wartawan, tokoh nasional yang pernah didaulat menjadi Wakil Ketua Dewan Pers Kehormatan PWI 1952 ini pernah menjadi Pemimpin Redaksi Surat KabarNeratja kemudian berubah menjadi Hindia Baroe sebagai organ organisasi pergerakan Serikat Indonesia yang dipimpin HOS Cokroaminoto dan Abdul Muis.
 
Adapula nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau sering disingkat Hamka. Bakat menulis Hamka tulis Hasirl tumbuh bersamaan dengan kemampuannya berpidato. Hamka pernah menulis karya sastra terkenal ketika tinggal di Medan berjudul Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1939).
 
Secara eksplisit Hasril Chaniago membagi tokoh pers asal Sumatera Barat menjadi periode perintisan dan perjuangan kemerdekaan, seperti Abdul Muis, Agus Salim, Rohana Kudus, Iljas Jacoub, Hamka, dll. Kemudian periode Proklamasi hingga Orde Lama, Ani Idrus, Anas Makruf, Rusli Amran, Rosihan Anwar, Kasoema, HM Samawi, Loetan St Toenaro, Soewardi Idris, dll.
 
Sedangkan Orde Baru hingga Reformasi terdapat nama Zulharman Said, Junisaf Anwar, Karni Ilyas, Azkarmin Zaini, Tribuana Said, Fadli Zon, Ibrahim Sinik, dll.
 
Hasrin Chaniago juga mengulas sejumlah tokoh Juru Bicara Rumah Bagonjong, yang pernah menjabat dan berkiprah di dunia kehumasan di Sumatera Barat. Satu diantaranya ialah mantan Menteri Dalam Negeri era SBY, Gamawan Fauzi.
 
Di akhir lembaran buku, Hasril Chaniago menampilkan biografi singkat tim penulis buku '121 wartawan Hebat dari Ranah Minang dan Sejumlah Jubir Rumah Baganjong.
 
 
Hj Ani Idrus menghiasi sampul buku '121 Wartawan Hebat dari Ranah Minang dan Sejumlah Jubir Bagonjong' yang disusun Hasril Chaniago.
 
Sumber: Suratkabar Harian WASPADA Medan