Entertain - Menemukanmu Aku Merasa Beruntung

Menemukanmu
Aku Merasa Beruntung


Oleh : Diana

Batas senja tergurak di hamparan langit redam, Indah yang masih mengemasi barang langsung bergegas keruangan hening penuh harapan, menghadap Rabb nya agar selalu dipermudahkan segala urusan. 

Indah harus segera merapikan barang-barangnya malam itu juga karena esok adalah hari Ahad di mana Indah harus segera berangkat menghadiri pengajian seperti biasa.

Pagi telah tiba, burung-burung berkicau merdu mengagungkan Sang Pencipta dan Indah pun sudah siap akan keberangkatannya supaya tidak tertinggal menghadiri acara. Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Indah pun melafazkan bassmallah lalu pergi. 

Qodarullah sesampainya di pertengahan jalan Indah terjebak macet berkepanjangan yang disebabkan oleh kecelakaan mobil dan banyaknya tim evakuasi serta warga yang ikut melihatnya sehingga menghalangi jalanan. 

Kemudian, Indah menelepon Intan untuk memberi kabar bahwa dirinya akan terlambat datang ke acara pengajian.
Indah : “Halo, assalamu’alaikum Tan?”.
Intan  : “Wa’alaikumussalam Ndah, ada apa?”
Indah : “Maaf ya Tan, sepertinya aku agak telat sampai di acara nanti soalnya tadi ada kecelakaan mobil gitu, jadi macet banget jalannya”. 
Intan : “Ia Ndah nggak papa, yang penting kamu hati-hati di jalan ya?” (pesan Intan kepada Indah). 
Indah : “Iya sayang, pasti dong”. 
“Eh gimana acaranya, sudah mulai?”.
Intan : “Belum, tapi sepertinya akan dimulai sebentar lagi”.

Indah sedih sekali mendengar kabar tersebut, sebab dirinya sudah tertinggal beberapa materi sebelumnya dan ini harus tertinggal lagi.

Indah : “Yaaaaaaah, bakalan tertinggal lagi deh” (dengan nada sedih)
Intan : “Jangan sedih gitu dong, kan acara belum dimulai. Insyaallah Indah nggak tertinggal banyak kok, ntar pulangnya Aku traktir es krim deh, jangan sedih lagi yaa”. (jawab Intan sambil memberi semangat). 
Indah : “Hmm, iya deh iya. Yasudah aku tutup dulu teleponnya ya, wassalamu’alaikum”. 
Intan  : “Ia sayang, wa’alaikumussalam warahmatullah” (jawab Intan dengan sangat lembut). 

Akhirnya setelah melewatkan 40 menit acara Indah pun sampai di tempat tujuan dan menghubungi Intan agar menjemputnya masuk. Tepat di tengah-tengah  acara, Indah melihat seorang pemuda tampan yang sedang berbicara tentang bagaimana hijrah yang benar.

Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba Indah merasa ilfil melihat pemuda yang sedang berbicara itu.

Indah : “Hmmm. Tampan sih tampan, tapi gayanya sok oke ih!” 
Suara Indah yang samar terdengar sampai ketelinga Intan.
Intan  : “Hus, hati-hati kalau ngomong, pamali tau? Nanti bisa jadi cinta beneran loh!”.
Indah :” Hahaha, tahayaul tau gak!”
Intan : “Lagian kamu sih” 

“Ni Aku kasih tau ya... Benci, rindu dan cinta itu gak jauh berbeda, karena datangnya sama-sama dari hati.

Jadi, kalau saat ini kamu bisa benci sama dia tidak menutup kemungkinan kamu juga akan suka sama dia”.

Indah : “Iya iya baweeel” (kata Indah sambil menghela nafas panjang terlebih dahulu). 
Selepas acara, Indah pun kemudian menagih janji Intan yang akan mentraktirnya es krim, setelah itu mereka pulang ke tujuan masing-masing. 
“Yang, Aku balik dulu ya. Assalamu’alaikum," sapa Indah.
“Wa’alaikumussalam Ndah, hati-hati di jalan!", jawab Intan.

Setahun lamanya Indah tak menyangka akan bertemu lagi dengan pemuda yang dilihatnya di acara pengajian waktu itu. Tepat pada pukul 12.20 WIB Indah yang sedang duduk di pinggir jalan sambil memegang secangkir jus yang dibelinya di seberang kemudian disauti oleh kumandang adzan yang menenangkan, tapi Indah masih berada di jalanan lalu tidak lama setelah itu ada seorang pemuda yang sedang berkendara menatapnya tajam seakan-akan kenal dan Indah pun hanya terdiam lalu bergegas ketempat tujuan untuk menunaikan panggilan.

Ahad kembali menunjukkan kebahagiaan yang ditunggu-tunggu oleh Indah si perindu Jannah bersama sahabat yang selalu menemaninya. Seperti biasa, mereka berdua datang dengan semangat dan senyuman gembira lalu duduk sembari menanti ceramah kemudian mereka tak pernah lupa menyiapkan buku kecil untuk mencatat hal-hal yang bermakna. 

Acara pun telah usai, Indah yang awalnya tampak ceria, tersenyum mempesona tiba-tiba saja terlihat murung saat tahu ada seorang pemuda yang sedang memperhatikannya. 

Pemuda itu tidak lain adalah pemuda yang sama, pemuda yang sempat membuat Indah tidak menyukainya dan Indah merasa terganggu oleh kehadirannya. 

“Aku penasaran banget sama pemuda itu. Sebenernya dia itu siapa sih! Di mana-mana ada!” dan sekejap Indah teringat dengan ucapan Intan sahabatnya itu, “Apa iya ya yang diucap Intan waktu itu? Ah nggak-enggak, jangan sampai”. Indah pun hanyut melamun.

Tiga hari setelah acara pengajian Indah dan Intan mendapat telepon dari sekretaris perusahaan, padahal baru dua minggu mereka memasukkan lamaran di sana dan alhamdulilah prosesnya lumayan cepat untuk diterima kerja. 

Tak hanya itu saja, mereka juga menerima undangan untuk menghadiri acara peresmian cabang perusahaan ke 4 tempat Indah dan Intan ditempatkan untuk bekerja. 

Keesokan harinya Indah dan Intan menghadiri acara peresmian itu dengan ekspresi wajah yang bahagia tiada tara kemudian mereka duduk di bangku nomor dua paling depan dengan rasa hati yang begitu gembira karena diterimanya kerja, Indah yang awalnya girang itu mendadak kaku dan gemetar seperti tersambar geledek yang beriringan angin topan setelah tahu bahwa pemuda itu lah yang nantinya menjadi bos di kantor tempat ia bekerja. 

Setelah acara selesai, Indah dan Intan pulang bersama. “Aku ingin menceritakan semuanya tapi, enggak deh! Aku takut Intan akan meledek dan mentertawaiku nantinya”, ucap Indah dalam hat. 

Tak berpikir panjang Indah pun kemudian langsung menceritakan persoalan itu. Intan yang merasa lucu mendengarnya lalu memotong pembicaraannya. “Hahahaha, kamu ini ada-ada aja ya. Hanya karena persoalan sepele kamu sampai segitunya, dasar! Baper gak ketulungan. Sepertinya kamu perlu diruqyah deh”.

 “Sudah ku duga, pasti kamu bakal ngeledek dan mentertawaiku seperti ini. His kamu si, aku kan lagi serius,” sambut Indah cemeberut melirik tajam. 

Intan pun kemudian menjelaskan singkat mengenai identitas pemuda tersebut “Gini ya sayang, kamu masih ingat gak setahun yang lalu waktu kamu tertinggal di acara kajian karena macat? Nah, secara tidak langsung pembawa acara telah memperkenalkan pemuda itu bahwa dia adalah wakil ketua pengelolah majelis ta’lim tempat kita mengaji dan yang perlu kamu tahu sampai sekarang ini dia juga aktif dalam menjalankan tugasnya sebagai aktivis dakwah ditambah yang kita tahu sekarang ini dia adalah seorang pemimpin perusahaan besar di tempat kita bekerja. Seharusnya kamu tuh bangga sama dia. Uda sholeh, ganteng, kaya, dermawan, enggak sombong, kan keren dan yang pasti masih jomblo gitu loh!”. 

“Ha, masa ia sih. Tapi tunggu-tunggu, kamu bilang  apa tadi! Dia ganteng? Ih, biasa aja pun," jawab Indah bergemuruh sukma dan masih tidak mempercayainya. 

“Hus, kalau ngomong asal nyeplos, masih nggak percaya? Emang kamu sebenci itu ya sama dia? Awas lo, nanti beneran naksir baru tau kamu!” Ledek Intan.

 “Bukan benci lo sayang, hanya sedikit tidak menyukainya saja," jawab Indah dengan lembut.
“Yaaa, beda tipis nya itu. Inget Ndah jangan benci, benci bisa jadi rindu dan rindu bisa saja menjadi cinta. Ya sudahlah jangan dipikirin lagi, pokoknya sekarang kamu tenangkan diri dan banyakin istigfarnya ya, besok kita kan uda mulai masuk kerja, jadi harus semangat jangan gak semangat,” kata Intan sambil menasihati. 

“Hm, iya iya. Tapi, betul juga sih apa yang kamu katakan mungkin aku saja yang terlalu berlebihan, makasih ya," gumam Intan, lalu mereka  melanjutkan perjalanannya.

Keesokan harinya pada saat pertama kali masuk kerja Indah merasa kurang enak badan dan keringat dingin pun bercucuran tidak seperti hari-hari biasanya. 

Indah takut pekerjaannya akan terbengkalai, Indah pun kemudian permisi sejenak untuk beristirahat di mushola sebelah kantornya berada sekaligus menunaikan sholat dhuhah.

Sesampainya di mushola Indah mendengar suara seorang laki-laki sedang malantunkan ayat suci al-Qur’an. Indah yang tadinya merasa tidak enak badan jadi sedikit lebih baikkan karena terpesona dengan bacaan ayat al-qur’an yang dilantunkan oleh seorang pemuda. 

Indah berniat akan melihatnya setelah selesai sholat nanti, tapi ketika itu hanya tinggal Indah seorang yang ada di dalam mushola. Indah pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Setelah beberapa waktu bekerja akhirnya jam istirahat berbunyi, Indah dan Intan yang sudah terbiasa membawa bekal saat dulu di sekolah maupun di kampus kini diterapkan kembali pada saat bekerja, kemudian Indah mengajak Intan untuk makan dan beristirahat di mushola yang ia datangi pagi tadi. 

Indah : “Tan, kita makan di mushola itu saja yuk soalnya tuh di sana dingin, bersih dan tenang, nanti selesai makan kita bisa sekalian sholat dzhur, iya nggak?”. 

Intan  : “Oh iya ya, yauda yuk kita ke sana”.

Sesampainya di mushola Indah menceritakan kejadiannya pada waktu pagi tadi.
Indah : “Tan, tahu nggak sih? Tadi tuh waktu aku sholat dhuhah, sku dengar lantunan ayat suci al-qur’an lo di mushola ini dan masyaallah nya lagi lantunan itu di bacakan oleh seorang laki-laki, jarang banget kan ada laki-laki seperti itu apalagi di tempat kita ini?”. 
Intan  : “Iya sih tapi, kamu tahu nggak siapa orang nya?” 
Indah : “Yaaa enggak sih, lagian belum sempat dilihat uda keburu nggak ada orangnya."
Intan  : “Cie-cie ada yang lagi jatuh cinta nih. Yasudah nanti kita sambung lagi ya, kita ambil wudhu dulu yuk sebentar lagi adzan!”. 
Indah  : “Yauda yuk”. 

Ketika Indah dan Intan berwudhu, laki-laki yang sedang melantunkan ayat suci al-qur’an pagi itu datang dan mengumandangkan adzan. Indah yang sedang berwudhu langsung memberi tahu Intan bahwasannya suara adzan tersebut sama percis dengan suara laki-laki yang diceritakannya waktu makan siang. 

“Tunggu-tunggu, ini kan suara laki-laki yang mengaji tadi?," tanya Indah dalam hati dan memberhentikan wudhunya.
“Tan, suara adzan ini sama percis lo dengan suara laki-laki yang aku ceritakan barusan!” cetus Indah ke Intan.
 
Intan tidak menjawab karena masih berwudhu dan Indah memutuskan wudhunya untuk mendengarkan suara adzan tersebut sampai selesai. 

Intan  : “Indah, cepat wudhu ntar telat lo?”.
Intan : “Iya yaa, sebentar!”. 

Selesai menunaikan sholat, lagi-lagi Indah mendengar lantunkan ayat suci al-qur’an itu. Indah yang semakin penasaran langsung bergegas mengintip dari atas tirai pembatas. 

Laki-laki itu tidak lain adalah boss nya sendiri yang sempat tidak ia sukai dan kini rasa kebencian itu telah luluh akibat indahnya ayat-ayat Allah yang dilantunkan dengan tulus dan merdu, ketika itu juga Indah langsung melangitkan do’a pada Sang pemilik hati:

"Ya Allah Ya Robbi, jika suatu saat nanti aku jatuh cinta jangan biarkan cintaku ini berkurang untuk Mu hingga membuatku lalai pada-Mu. Dan sekiranya aku jatuh cinta jatuhkanlah hati ini pada seseorang yang mencintaiku karena-Mu agar kekuatanku lebih untuk mencintai Mu. Aamiin”.


Empat bulan sudah Indah bekerja tapi sama sekali tidak pernah bertegur sapa dengan bos nya. Hingga suatu hari pada saat rapat berlangsung yang biasanya Indah hanya menyalurkan pendapat kesahabatnya itu kini menyampaikan sendiri pendapatnya kepada boss dan rekan-rekan lainnya sebab sahabatnya berhalangan untuk berhadir. 

Indah sama sekali tidak berani untuk menatap mata bos nya itu pada saat menyampaikan pendapatnya namun untuk menghargai dia sebagai atasannya Indah hanya berani melihat bibirnya saja. 

Seperti biasa, sebelum pulang kerumah Indah selalu merapikan mejanya dari sisa kertas atau sampah lainnya dan kemudian barulah pulang kerumah. 

Sesampainya di rumah, Indah langsung bergegas untuk menunaikan sholat. Kemudian, sebelum tidur Indah terbiasa berwudhu terlebih dahulu karena ia percaya orang yang tidur dalam keadaan bersuci malaikat akan menjaganya dan memohon kepada Robb untuk mengampuni dosanya selama ia tertidur. 

Kini sudah hampir setahun penuh Indah bekerja tapi sama sekali tidak pernah berinteraksi langsung dengan bos nya. Indah yang sampai saat ini mengaguminya itu tidak pernah bosen untuk menunggunya dan berharap kepada Allah agar menyatukan mereka berdua. 

Indah selalu menceritakan kejadian-kejadian apa saja kepada Robb nya dan tidak ada satu makhluk pun yang tahu tentang perasaannya baik itu orang tua maupun sahabatnya. 

“Angin menyambut kerinduan seakan-akan membalas cinta dan mengajakku berbicara. Dia adalah satu yang paling menyebalkan, satu yang membuatku jatuh cinta. Aku tau, aku lah yang jatuh cinta dan bukan dia dan aku paham, aku lah yang memiliki perasaan terlebih dulu terhadapnya. 

Aku yang diam-diam memperhatikannya tanpa dia sadari. Terbayang pandang pertama kali yang membuatku susah untuk menghilangkan dan menghadirkan pertanyaan tanpa jawaban. Aku tau aku salah tapi harus bagaimana, diam inilah yang tiba-tiba hadir mendatangkan cinta. Diam ku yang selama ini menyimpan kekuatan dan diam ku menyimpan harapan. 

Melangitkan do’a untuk cinta adalah sebaik-baiknya mencintai dengan cara yang baik. Aku akan belajar memantaskan diri sepenuhnya hanyalah karena Robb ku agar Ia menetapkan aku menjadi pilihan terbaik-Nya untuk bisa hadir mendampingimu. 

Jika benar aku yang Allah pilih, sejauh apapun kamu berjalan hati akan menuntunmu kembali pulang. Menjaga hati dengan lebih banyak menghabiskan waktu bersama Robb, keluarga dan sahabat ku adalah hal yang kupercayai bahwa janji Allah adalah ketetapan yang pasti. 

Aku akan tetap disini untuk terus berikhtiar dan berdo’a dalam mendandani hati agar bisa dipantaskan untuk bersamamu kelak menjalankan amanah kehidupan dan untuk sementara waktu kini aku juga harus mengikhlaskanmu agar aku tetap menjaga hati bahwa sebaik-baiknya cinta adalah mencintai Sang Pencipta. 

Semoga aku dan kamu selalu diberi kesabaran oleh-Nya untuk selalu belajar yang terbaik, untuk kita dan agama kita. Meskipun  kelak kamu bukanlah jawaban atas do’a-do’a ku, aku tidak akan menyesal pernah memanjatkannya dalam malam-malamku yang dingin, dalam pagi-pagiku yang sejuk, dan dalam rindu-rinduku yang sepi. 

Aku berharap, aku tak berhenti bersyukur kepada Dia yang Maha Tau atas segala pertemuan ini” gumam Indah  pelan sambil menangis membayangkannya.

Hampir dua tahun Indah bekerja, selama itu pula boss nya selalu memperhatikan dirinya yang tanpa Indah ketahui ternyata bossnya juga menyukainya selain itu Ia juga mencari tahu bagaimana kepribadian Indah dan keluarganya kepada Intan orang yang selalu bersama Indah.

Setiap do’a pemuda itu, selalu terucap nama Indah yang Ia langitkan disetiap sujud panjangnya:
“Ya Allah... Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang meletakkan cintanya kepada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu. 

Ya Muhaimin... Jika aku jatuh cinta, izinkan aku yang menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta nafsu. Ya Rabbana... Jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya, agar tidak berpaling daripada hati-Mu. Ya Rabbal Jzzali... Jika ku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu. 

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi keindahannya bermunajat disepertiga malam terakhir-Mu. Ya Allah... Jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru menuju kepada-Mu. 

Ya Allah... Jika Kau halalkan aku merindu kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta yang hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu. Ya Allah  ku mohon agar Kau temukanlah daku dengan cinta yang mendapat keredhaan-Mu. 

Ya Allah, jika dia benar untukku dekatkanlah hatinya denganku dan jika dia bukan milikku maka damaikanlah hatiku dengan ketentuan-Mu."


Alhamdulillah kini perusahaan berkembang sangat pesat dan di umur tepat yang ke dua tahun, lagi-lagi perusahaan mengadakan syukuran di kantor. Dengan nuansa yang berbeda kali ini suasana kantor sangat indah sampai pada mushola nya pun juga di dekor dengan amat lebih indah daripada kantor itu sendiri. 

Sehari sebelum syukuran, Muhammad Akbar, boss dari perusahaan tempat Indah bekerja mendatangi rumah Indah dengan bantuan Intan sahabat Indah dan meminta izin untuk menikahi Indah anaknya tanpa Indah ketahui.

“Assalamu’alaikum Bapak..Ibu," ucap Intan dan Akbar bersamaan.

 “Wa’alaikumussalam warahmatullah. Iya nak, mari-mari masuk. Ini ada apa ya? Indahnya kemana, kok ndak sama-sama?,"jawab bapak indah. Lalu Intan dan Akbar bersalaman dengan orang tua Indah

“Oh iya Pak, jadi kedatangan Intan kesini mau memperkenalkan Muhammad Akbar, bos Indah dan Intan tempat kami bekerja,"papar Intan.
“Assalamu’alaikum pak,” sapa akbar tersenyum ramah.

"Iya nak Akbar. Wa’alaikumussalam, maafin anak bapak ya kalau selama bekerkerja suka buat kesalahan," ujar bapak indah tersenyum tapi terlihat panik.

Akbar tersenyum lepas. “Ndak begitu Pak, maaf kedatangan saya membuat Bapak dan Ibu panik. Di sini Akbar mau minta izin dan restu untuk menikahi anak Bapak dan Ibu," ucap Akbar mantap.

“MasyaAllah nak, ini serius? Tapi, kami ini dari keluarga biasa, ndak seperti nak Akbar yang kaya,"jawab bapak Indah terperangah.

“Pak, saya ikhlas menikahi anak bapak, saya mencintai anak bapak karena Allah bukan karena materi yang ada. Apakah bapak mengizinkan saya untuk meminang anak Bapak dan Ibu?” Tanya Akbar.

 “MasyaAllah, semoga niat nak Akbar ini dipermudah oleh Allah ya, tapi maaf ni sebelumnya, Bapak dan Ibu sih mengizinkan tapi bapak ndak bisa memaksakan kehendak Indah nanti kalau semisalnya dia menolak,"jawab bapak Indah.

“Iya Pak, ndak papa. Yang penting Bapak sudah mengizinkan saya untuk meminang Indah anak Bapak. Oh iya.. besok saya harap Bapak hadir di acara syukuran kantor ya Pak, nanti di sana saya akan membicarakannya dengan Indah dan saya harap Indah jangan tahu dulu soal ini,"sambut Akbar.

"Oh iyaya nak, baiklah kalau gitu nak," jawab bapak Indah tersenyum.
“Ia Pak, besok kan saya akan meminang anak Bapak jadi maksud saya Bapak jangan sampai telat ya, besok Bapak dan Ibu akan dijemput sama Bapak yang ini, supaya ndak ketahuan, Bapak dan Ibu akan diantar ke rumah saya terlebih dahulu, nanti kita perginya barengan. Saya juga sudah menyiapkan acara pernikahnya, kedatangan saya di sini juga ingin meminta do’a restu dari Bapak dan Ibu supaya Allah memudahkan saya meminta izin kepada Indah untuk menjadi isteri saya”.
“Oh iya nak, ndak papa kalau gitu. Bissmillah aja ya”.
“Iya Pak. Terima kasih yaa, yauda kalau gitu saya dan Intan pamit pulang dulu. Wassalamu’alaikum Pak, Bu” tukas Akbar dengan lembut lalu bersalaman.
“Iya nak, wa’alaikumussalam warahmatullah”.

Tepat di acara syukuran, Akbar meminta Bapak dan Ibu Indah untuk menunggu di Mushola. Setelah itu Akbar tak sengaja melihat Indah dan berkata dalam hati:
“Hadirnya menggamit kasih cinta bersemi, hadir cinta insan padaku ini adalah suatu anugrah karunia Ilahi. Lembut tutur bicaranya menarik hatiku untuk mendekatinya, kesopanannya memikat di hati yang telah mendamaikan jiwaku yang resah ini. Ya Allah, jika dia benar untukku dekatkanlah hatinya dengan hatiku. Jika dia bukan  milikku, damaikanlah hatiku dengan ketentuanmu. Dialah permata yang ku cari. Tapi ku tak pasti rencana Ilahi. Apakah dia kan kumiliki? Tidak sekali dinodai nafsu, akan kubatasi dengan syariat-Mu. Jika dirinya bukan untukku redha hatiku dengan ketentuan-Mu. Ya Allah Engkaulah tempat ku bergantung harapanku, kuharap diriku senantiasa di bawah rahmat-Mu."

Langsung pada saat itu juga Akbar meminta kepada seluruh tamu undangan untuk berkumpul. Akbar pun kemudian membuka acara itu dan langsung meminang Indah.
Akbar : “Assalamu”alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.
Para hadirin : “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”.

“Saya ucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan sekalian yang sudah hadir dalam acara ini, langsung saja di sini saya ingin menyampaikan hal yang sangat penting dalam hidup saya yaitu saya akan menyampaikan bahwasanya saya akan meminang seseorang yang ada di sana," katanya sambil mengarahkan tangan ke Indah.

Indah terkejut dan bertanya-tanya dalam hati, siapa yang dimaksud Akbar bos nya itu.
“Dia adalah seseorang yang membuat hati ini luluh, dia adalah satu yang membuat saya jatuh cinta. Iya, kamu orangnya (Indah). Bissmillah, apakah kamu mau menjadi isteriku dan menjadi Ibu untuk anak-anak kita?”
“Iya saya mau," spontan Intan pelan sambil menganggukkan kepala.

Acara nikah pun dilaksanakan dan alhamdulillah berjalan dengan lancar pada malam itu juga tepatnya di Mushola tempat pertama kalinya Indah jatuh cinta dengan Akbar.
Setelah lama bersabar untuk menunggu, akhirnya Indah dan pemuda tampan tersebut dipersatukan oleh Allah. Yang tanpa Indah ketahui sebenarnya pemuda itu juga telah mengaguminya sejak pertama kali bertemu dan selalu melangitkan do’a untuknya supaya bisa dipersatukan bersama.*

Kampus Universitas Asahan
Kisaran 19 Oktober 2019.
Diana, mahasiswa FKIP UNA*