News - Doa

Doa

03 Agustus 2018 16:56
631

Doa

Pagi itu saat di perjalanan menuju sekolah, Shayla ponakan kecilku yang baru kelas 1 SD, berkata pada Mamiy-nya... 
"Ternyata gitu ya Mi do'a itu."
"Ternyata gimana nak?"tanya mamiy-nya. 
"Shayla do'a My...minta Allah kasi motor biar mamiy bisa antar Shayla sekolah....dan Allah kasi ya Mi."

Sebuah keyakinan seorang anak kecil, memang. Prasangka baiknya pada Allah, sebagai tempat meminta.

Tapi coba ingat-ingat lagi...masihkah kita punya prasangka baik itu pada Dzat tempat kita memohon segala keinginan kita? 

Malah mungkin, sering kita berdo'a kepada Allah dengan marah. 
Kenapa sihhh ga begini??....Kenapa sihhh ga begitu??....

Bahasa marah yang sering kita pakai untuk meminta pada Allah. Apalagi ketika diberi ujian. Karena tlah putus sudah silaturahmi kita dengan Allah.

Padahal tanpa kita sadari, kalau kita tertimpa musibah seperti sakit, dan lain-lain...sesungguhnya Allah ingin mengangkat derajat kita, maka harusnya yang ada hanya ucapan alhamdulillah 'alakulli hal.

Itulah silaturahmi kita dengan Allah yang semestinya.

Jangan putus asa, jangan rubah kenikmatan menjadi murka. Allah itu Maha Kasih, Allah Maha Kaya, Allah tergantung pada prasangka hamba-hambaNya.
Kalau prasangka kita baik, Allah kasi yang baik, kalau prasangka kita jelek, dikasi yang jelek. 

Kita sering berburuksangka pada Allah karena putusnya silaturahmi dengan Allah itu.

Itu yang bikin kita putus asa, marah....hingga ada orang yang mungkin berkata,"Ngapain sholat...itu ga bakal bikin kaya kog!"

"Padahal saya udah sholat dhuha terus, tapi kog saya tetap miskin? Katanya sholat dhuha mendatangkan rezeki, kog saya tetap melarat?"

Akhirnya putus sholat dhuha dan sholat sunnat lainnya. Padahal permohonan seorang hamba yang dipanjatkannya pada Allah itu, pengabulannya ada bermacam-macam.

1. Ada permohonan kita itu yang langsung dikabulkan oleh Allah sesuai permintaan kita. Kita minta hijau, dikasi hijau. (Yang penting ga boleh berprasangka buruk dengan Allah)
Kalau Allah sudah janji, ga seperti janji manusia. 
Ga ada yang bisa menghalangi kehendak Allah, kalau Allah berjanji, pasti akan Allah penuhi. 
"Mintalah padaKu, akan Aku berikan."

Kekeliruan kita yang lain, kadang kita menganggap do'a itu adalah sarana. 
Do'a itu bukan sarana untuk sampai pada tujuan.
Kalau ada perlu...baru berdo'a. Udah dikasi....ga do'a lagi. 

Padahal do'a itu adalah ibadah. Dikabulkan atau tidak, itu hak Allah.
Kita tetap saja berdo'a, karena do'a itu ibadah. 

Biasanya orang kalau punya hajat, nemui kyai, nangis minta do'a, besok setelah terkabul, lupa deh.

Do'a itu adalah tujuan. Firman Allah :
"Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu."

Jadi kalau kita paham ini, mau kapan pun terkabul yang penting tugas kita adalah berdo'a. 

Manusia kalau sering dimintai, akan marah sama yang minta.
Tapi kalau Allah, kita tidak minta, Allah malah marah. 
Semakin sering kita minta, semakin cinta Allah pada kita dengan do'a  kita. 

2. Akan diberi sesuatu yang lebih penting bagi kita. 
Kita sering (misalnya) minta duit sama Allah. Dhuha minta duit, tahajjud minta duit tapi ga dapat-dapat duit. 
Sebetulnya sudah dikasi oleh Allah, cuma kita saja yang tidak tau. 
Kita minta hijau dikasi putih. 
Kita minta merah dikasi kuning. 
Kita minta diberi rezeki yang sekian banyak, tapi ada yang lebih penting dari itu yang diberi Allah.
Kita tidak pernah meminta kepada Allah untuk menjaga jantung kita, tapi Allah sudah menjaganya. 
Dan bisa jadi duit yang kita minta tidak jadi duit. Tapi kesehatan jantung kita. Meski kita enggak pernah minta itu.

Apa yang kita minta, Allah kabulkan, hanya mungkin bukan itu yang kita butuhkan.
Selama ini mungkin fokus kita duit doank. 
Padahal terjaga jantung kita, terjaga iman kita itu jauh lebih penting dari sekedar duit. 

3. Do'a itu kadang dikabulkan dalam tempo yang lama. 
Minta hari ini belum tentu dikasi hari ini karena belum waktunya. 

Ada satu kisah wanita tentang yang sholehah bernama Hannah binti Faqudz (saudara ipar Nabi Zakaria). Ibunda Siti Maryam. Hannah adalah wanita yang sangat sholehah dan terjaga. 

Suatu ketika dia berdo'a, memohon pada Allah :
"Aku bernazar kalau anakku lahir nanti menjadi orang yang terbebas dari hiruk pikuk dunia. Hanya beribadah saja."
Hannah menginginkan seorang putra untuk dihibahkan kepada Baitul Maqdis.

Sepanjang dia mengandung, do'anya itu terus.
"Ya Allah jadikan anak ini nanti menjadi orang yang tidak pernah putus ibadahnya, ngurusin tempat ibadah.... di situ terus."

Ternyata yang lahir adalah anak perempuan. Dan diberi nama Siti Maryam. 
Tapi apakah itu artinya do'anya tidak terkabul? 
Allah Maha Tahu.... Meski perempuan tapi kualitasnya sama dengan laki-laki.

Dia dirawat oleh Sayyidina Zakaria. Maryam tumbuh menjadi gadis yang taat beribadah. Tidak hanya taat beribadah, Maryam merupakan gadis yang sangat menjaga kesuciannya.
Maryam tumbuh menjadi wanita yang kerjanya setiap hari hanya beribadah dengan berkhidmat kepada Allah di Rumah-Nya di Baitul Maqdis. 
Zakaria adalah “kuncen” Rumah Allah tersebut. Di sinilah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada Maryam. 
Setiap kali Zakaria menemui Maryam di mihrab, dia mendapati berbagai makanan yang lezat berada di samping Maryam. 
"Dari manakah datangnya makanan itu?" Setahu dia Maryam tidak pernah membawa makanan, Zakarilah yang selalu mengantarkan makanan kepada Maryam. Maryam menjawab bahwa makanan itu berasal langsung dari Allah, mungkin diturunkan dari langit atau melalui perantara malaikat-Nya.

Sampai Nabi Zakaria yang dikisahkan sudah tua tetapi belum juga dikarunia anak, terinspirasi dari keponakannya, Maryam, yang menjadi ahli ibadah, Zakaria juga bermohon agar dirinya diberi keturunan.
Di tempat beribadah Siti Maryam itulah Nabi Zakariya mendo’a kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a”. (3:38)
Akhirnya diberi anak yaitu nabi Yahya. Sampai suatu hari Allah memberikan suatu keajaiban yang tidak disangka-sangka bagi Maryam. Allah mengabarkan bahwa Maryam yang tak pernah disentuh laki-laki akan mengandung seorang anak lelaki yang namanya sudah ditentukan oleh Allah yaitu Isa Al Masih (atau Al Masih isa putera Maryam).

Nabi Isa ini diangkat oleh Allah dan nanti akan turun di akhir zaman dan beliau adalah satu-satunya nabi yang diizinkan Allah untuk menjadi ummat nabi Muhammad saw.
Siti Maryam mulia, Sayyidina Isa mulia. Ini berkat do'a ibundanya.

Mari kita bangun kembali silaturahmi kita dengan Allah.
Hendaknya saat kita memohon pada Allah, kita berhusnudzon pada Allah. Allah Maha Kuasa dan Allah akan kabulkan do'a orang yang meminta.

Jadi, tetaplah berprasangka baik pada Allah. Dia (Allah) akan mengabulkan do'a hamba-hambaNya.
Jangan buru-buru dalam meminta. Buru-buru beribadahnya, buru-buru minta dikabulkan. Itu tidak baik. 
Kalaupun tidak dikabulkan di dunia, jangan berprasangka buruk sama Allah...do'a kita sedang menanti-nanti di akhirat. Akan menjadi pahala yang ditangguhkan oleh Allah untuk diberikan di akhirat nanti. 

Wallahu'alam bissawab 
Semoga bermanfaat 

Bogor, 020818
By : Ade Diana