Tribuana Said: Wartawan Menulis Buku
|| S.W.O.T


Tribuana Said MDS dan Nurkarim Nehe MSP. Foto Cok M.Faisal.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Wartawan harus mampu menulis buku sebagai akumulasi rutinitas kerja profesionalnya.
 
Presiden Komisaris Waspada H.Tribuana Said MDS menegaskan hal itu dalam Lokakarya HUT Waspada ke 73 di Garuda Plaza Hotel, Minggu (12/1). Dalam sessi dipandu moderator Nurkarim Nehe MSP, Tribuana berkali kali meminta wartawan Waspada untuk mulai menulis buku.
 
Hadir Pemimpin Umum (PU) Harian Waspada dr.Hj.Rayati Safrin,MM,MBA, Pempinan Redaksi (Pemred) Harian Waspada H. Prabudi Said, Redaktur Sumut Harian Waspada, David Swayana dan para peserta Wartawan Waspada daerah Sumut.
 
Tribuana mengambil contoh wartawan yang gemar menulis buku di antaranya H. Rosihan Anwar berjudul "Petite Historie 27 Juli 1996". DH Assegaff berjudul "Tjatatan Tentang Film Ala James Bond dan Pengaruhnja Terhadap Masyarakat'.
 
Selanjutnya, Atmakusumah berjudul "Kerancuan Pengunaan Bahasa Dalam Pers Indonesia" dan "Menulis Buku Meluruskan Sejarah".
 
Parni Hadi berjudul "Istri Saya Meninggal Akibat Amnyloidosis" dan Jakob Oetama berjudul "Terangbulan di Pulau Buru Bertemu Rival Alpin."
 
"Menulis buku adalah mahkota kita sebagai wartawan, jadi segeralah menulis buk," kata Tribuana.
 
SWOT.
Dalam suasana santai, Lokakarya berjalan lancar mulai pukul 08.30wib sampai ditutup dengan diskusi pukul 21.00wib, termasuk jeda ishoma.
 
Tribuana Said lebih menekankan pada Spirit Waspada yang "bermula dan berlanjut untuk bangsa demi kebemaran dan keadilan".
 
Sehari sebelumnya, tepat hari lahir Waspada 11 Januari, dengan moderator Nurkarim Nehe MSP; Redaktur Pelaksana Edward Thahir S.Sos dan Redaktur Internasional Aldion Wirasenjaya menyampaikan materi tehnis tentang media digital, Redaktur Opini Dr.Dedi Syahputra tentang Features dan Indepth Reporting.
 
"Laksanakan SWOT secara pribadi, tim maupun kelembagaan sehingga semangat tetap berada di puncak,"ujar Tribuana Said.
 
Lokakarya ini juga membahas konsep, strategi dan goal dalam mempertahankan media cetak Waspada dan pengembangan media digital waspada.id untuk 2020-2025.
 
 
 


Kota NICA.
Tribuana sekilas menyampaikan pesan dari kata WASPADA saat terbit pertama kali 11 Januari 1947 di mana pemerintahan RI masa itu dipimpin PM Amir Sjarifoeddin kurang waspada  dengan menyetujui ruas jalan Belawan-Medan diserahkan kepada NICA.
 
"Dalam kaitan inilah saya bertekad untuk mendirikan surat kabar dalam Kota NICA sendiri di Medan dengan memberinya nama WASPADA. Tanggal 11 Januari 1947 nomor pertama Waspada pun terbit," jelas Tribuana mengutip biografi Pendiri Waspada H.M.Said.
 
H.M Said tokoh wartawan yang dikenal banyak menulis buku di antaranya Atjeh Sepanjang Abad.
 
Simak juga artikel berikut:
https://waspada.id/medan/ulang-tahun-ke-73-keluarga-besar-waspada-ziarah-ke-makam-pendiri/
 
https://waspada.id/medan/syukuran-hut-waspada-ke-73-sederhana-penuh-khidmat/
 
https://waspada.id/sumut/lokakarya-wartawan-harian-waspada-diminta-berjuang-berikan-layanan-informasi-terbaik/


Artikel Terkait

72 Tahun Waspada: Optimis Masih Prospektif

10 Januari 2019 21:35
357

Di usia 72 tahun Harian Waspada, menurut Bupati Sergai Ir.H.Soekirman, masih mampu bertahan dan semakin berkembang dengan pembaca setia dari berbagai kalangan....


Waspada 71 Tahun Era Digital

11 Januari 2018 18:43
410

Edward Thahir yang juga Sekretaris PWI Cabang Sumut ini mengingatkan seluruh wartawan, baik pemula maupun senior, harus tetap rajin belajar. "Jika berhenti belajar kita akan terlindas,"cetusnya....


Hingga Tetes Darah Terakhir..

12 Januari 2019 17:22
420

tetap berjuang dan bekerja keras terus memajukan Harian Waspada sebagai alat perjuangan bangsa, agama dan negara...


Ani Idrus Wartawati Hebat Dari Ranah Minang

08 Februari 2018 19:04
670

Sedangkan Orde Baru hingga Reformasi terdapat nama Zulharman Said, Junisaf Anwar, Karni Ilyas, Azkarmin Zaini, Tribuana Said, Fadli Zon, Ibrahim Sinik, dll. ...


Hindari Jenuh

12 Januari 2018 13:32
348

Wartawan sebagai insan biasa memiliki aktifitas sosial wajar jika terjebak jenuh hingga mempengaruhi produktifitas. "Bisa saja begitu, tetapi kita harus kreatif mengembangkan ide liputan tidak terpaku pada rutinitas. Jenuh pasti ada tapi hindarilah d...