News - Meneladani Fatimah Az Zahra

Meneladani Fatimah Az Zahra


Dalam suatu kajian, aku ingat tentang kemanfaatan harta yang kita miliki yang disampaikan narasumber.

Bahwa sebuah benda yang ada pada kita bisa memiliki kemanfaatan yang lebih jika kita pandai menggunakan untuk apa.

Mungkin kisah Fatimah Az Zahra putri Rasulullah bisa menjadi inspirasi bagi kita.

Kenapa Fatimah menjadi salah satu perempuan utama di surga?

Karena dari lahir sampai meninggal dia ga pernah ngalami hidup enak secara materi. Padahal dia anak dari seorang Nabi.

Tapi Fatimah sering didatangi orang yang ga punya untuk minta bantuan. Padahal Fatimah juga tak punya apa-apa.

Tapi Fatimah ga kaya' kita.... Kalau ada yang datang minta bantuan, dia cari-cari apa nih yang bisa dia berikan...

Pada suatu hari, usai sholat berjamaah Rasulullah saw duduk bersama para sahabatnya untuk menyampaikan berbagai ajaran Islam.

Tiba-tiba datang seorang lelaki tua yang keadaannya amat menyedihkan. Tubuhnya kurus, jalannya bergetar karena menahan lapar.

Lelaki tua itu berkata pada Rosululloh bahwa dia lapar, ga punya baju yang pantas, dia sangat miskin dan mohon bantuan.

Rasulullah adalah manusia yang amat dermawan dan tak pernah menolak permintaan tolong dari orang lain.

Namun saat itu, Rasulullah  tak punya makanan, uang, maupun pakaian untuk disedekahkan. Lalu beliau meminta Bilal untuk mengantarkan  lelaki itu ke rumah Fatimah.

Bilal pun melaksanakan perintah Rasulullah. Ia mengajak lelaki tua itu menuju rumah Fathimah, putri tercinta Rasulullah.

Lelaki tua itupun kembali mengulangi apa yang dibutuhkannya. Fatimah pun tercenung. Ingin menolong, tetapi tak ada makanan dan uang sedikit pun yang ia punya saat itu.

Fatimah mencari-cari apa yang ada.
Ternyata ada alas tidur kedua anaknya, Hasan dan Husein, yang terbuat dari kulit domba. Ia pun mengambilnya, dan menyerahkannya kepada lelaki tua itu.

Tapi lelaki itu menolak, dan mengatakan bahwa dirinya sedang kelaparan, dan tak tau apa yang bisa dilakukan dengan kulit domba itu.

Wahh kalo kita, pasti udah mikir... "Nihh orang songong ya... Dikasi aja milih, kan itu bisa dia jual."

Tapi Fatimah kan ga kaya' kita. Dia nyari lagi, ternyata ada kalung hadiah dari Rasulullah pada saat pernikahannya dengan Ali bin Abi Tholib. Ia melepas kalung yang dikenakannya. Padahal itulah satu-satunya harta Fatimah yang paling berharga.

Lelaki itu pun menerima kalung Fatimah  dengan gembira lalu kembali ke masjid menemui Rasulullah.

“Ya Rasulallah, Fatimah putrimu telah memberikan kalung ini dan ia berkata, ‘Juallah kalung ini, semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik’.”

Rasulullahpun menangis haru mendengarnya. Rosululloh tau putri yang sangat dicintainya saat ini sedang kesusahan. Namun Fatimah selalu ingin menolong orang lain.

Sahabat Rasulullah yang bernama Ammar bin Yasir menyaksikan kejadian itu. Ia meminta izin pada Rasulullah untuk membeli kalung itu.

Rasulullah mengizinkan Ammar membelinya dan mengatakan bahwa, surga akan menantimu Ammar.

Ammar bertanya berapa harga yang diinginkan laki-laki itu untuk kalung tersebut.

Lelaki tua menjualnya sesuai kebutuhannya, seharga roti dan daging untuk menghilangkan lapar, selembar kain dari Yaman untuk pakaian agar dapat shalat, dan satu dinar uang untuk pulang menemui keluarganya.

Lalu Ammar menjual bagian harta rampasan perang yang didapatkannya dari Rasulullah dan dan dia membeli kain Yaman dan makanan. Ammar menyerahkannya kepada lelaki tua itu, uang 20 dinar 200 dirham, sehelai kain Yaman, serta roti dan daging. Lalu,  memberikan untanya agar lelaki itu bisa pulang ke rumahnya.

Rasulullah kemudian meminta lelaki itu untuk membalas kebaikan Fatimah.

Orang itu pun berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan satu-satunya tempat kami mengabdi. Ya Allah, berilah Fatimah hal-hal yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbayang oleh hati manusia.”

Rasulullah mengaminkan doa lelaki itu. Lelaki tua itu pun pergi dengan hati senang.

Rasulullah lalu berkata kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya Allah telah memberikan hal itu kepada Fatimah di dunia. Aku adalah ayahnya, tidak ada seorang pun yang semisal denganku.  Ali adalah suaminya, tidak ada orang yang sebanding dengannya. Allah juga memberinya Hasan dan Husain, tidak ada manusia yang setara dengan keduanya di alam ini, keduanya adalah pemimpin pemuda surga.”

Ammar pun pulang ke rumahnya. Kalung Fatimah yang dibelinya itu dibungkusnya dengan kain Yaman serta ditetesinya dengan minyak wangi.

Dia menyuruh budaknya yang bernama Sahmun untuk menyerahkan bungkusan itu kepada Rasulullah. Dan Sahmun juga diserahkan pada Rasulullah.

Kemudian Rasulullah menyuruh
Sahmun menyerahkan kalung itu pada Fatimah dan mengatakan pada Sahmun untuk menjadi budak Fatimah.

Sahmun pergi ke rumah Fatimah. Fatimah menerima kalung itu dengan gembira.

Kemudian Fatimah berkata pada Sahmun, "Aku sudah mendapat kebaikan dan kamu merdeka."

Sahmun pun tertawa.

Fatimah bertanya kenapa Sahmun tertawa.

"Kalung ini memiliki keberkahan luar biasa! Memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang tak punya pakaian, memberikan harta kepada orang miskin, memerdekakan seorang budak, dan kembali kepada pemiliknya!” jawab Sahmun.

Selain itu, bahkan kalung itu memberi kesempatan seorang sahabat (Ammar) beramal soleh

Bendanya mah itu-itu aja....tapi kemanfaatannya bisa banyak.

Kalau Fatimah ga mau memberi, kan kalungnya tetap akan ada di tangannya tapi dengan dia berikan, kemanfaatan kalung itu jadi banyak.
Dan itu tidak mengurangi nilai yang dimiliki semula.

Nah...kita punya apa? Apakah yang kita miliki manfaatnya untuk kita sendiri? Yukk mulai pinter2 milih amal. Kalau kita bisa memaksimalkan apa yang ada di kita, mudah2an bisa memberi kemanfaatan yang lebih dari sebelumnya.

Kalau kita punya konsep keimanan seperti Fatimah, in syaa Allahu akan ringan bagi kita untuk memberi. Karena semua yang ada di kita kan bukan milik kita juga. Semua Allahu pinjamkan pada kita. Kita harus mengimani bahwa apa yang kita miliki harus memiliki kemanfaatan bagi banyak orang.

Dan semoga tulisan ini membawa manfaat juga.


Bogor, 7 Maret 2018
Catatan Diana