Anak Bakul Kerang...

Anak Bakul Kerang...

Anak Bakul Kerang...

Anak Bakul Kerang...

"Anak Bakul Kerang....," aku merindukan teriakan memanggil diriku ini, sebagaimana terjadi di tahun 1970-an sampai 1990-an.

Kini teriakan itu tidak ada sama sekali, seiring waktu berlalu dan kesibukanku tiba tiba aku menyadari hal itu.

Pondok Ubi Sari sudah lenyap berganti kantor Camat Kisaran Barat dan gedung lainnya. Pondok Pasar Dua sudah jadi bagian jalan lingkar luar Kota Kisaran, kawasan Pabrik Benang. Kemana perginya para warga?

Begitu juga warga Sidodadi yang selalu memanggilku Anak Bakul Kerang tidak kutemui lagi. Kami dipisahkan oleh usia masing masing.

Ayahku seorang Mantri Tani dengan delapan anak, membuat emakku ikhlas berjualan kerang, ikan dan hasil lautnya di depan rumah, tepi jalan utama Kisaran-Simalungun via Sidodadi/Gurach Batu.

Rumah kami persis di pringgan atau pinggiran inti kota Kisaran, bersisian dengan kebun karet HAPM/Uniroyal sekarang PT.Bakrie Sumatera Plantation Tbk. Tak heran jika interaksi sosialku banyak dengan warga perkebunan dan pedesaan, nyaris berbanding sama dengan interaksi dalam kehidupan sosial kota.

Tradisi hasil kondisi perkebunan antara lain "Utang dahulu, gajian baru dibayar" sudah kukenal sejak aku masih SD. Tradisi ini memang awalnya sengaja diciptakan Kolonial Belanda agar buruh perkebunan asal Pulau Jawa terikat dan lupa untuk kembali ke Pulau Jawa. Ini salah satu strategi Belanda yang mengelola perkebunan di Sumatera dan pulau lainnya.

Begitulah, banyak karyawan kebun mengutang kerang, ikan dan lainnya dari warung kami. Saat gajian kebun, aku dibawa emak berkeliling pemukiman naik sepeda kayuh. Saat itu aku kelas 5 SD Tamansiswa. Aku mengayuh sepeda, emak duduk sambil memegang stang. Di belakang ada Bakul berisi kerang dan hasil lautnya.
Sambil mengutip utang di pondok, emak berjualan hasil laut milik abang tirinya asal Labuhanruku. Kusempatkan bermain dengan anak pondok. Begitu seterusnya, jika dagangan belum habis, kami masuki kawasan pemukiman Sidodadi. Pulangnya, karena dagangan sudah habis, aku disuruh emak duduk di Bakul, emak dengan sigap mengayuh sepeda. Inilah awal kisah kenapa warga di kawasan itu memanggilku sebagai Anak Bakul Kerang.
Sampai aku berumah tangga dan aktif sebagai wartawan Waspada masih ada yang memanggilku demikian, bahkan itu terjadi di Indrapura Airputih-Batubara dan sekali di Medan. Warga yang eksodus dari Kisaran kemudian hari masih mengenaliku. Jika begini perbincangan langsung hangat. Bagaikan ada tautan darah. Kuingat sejak memasuki tahun 2000 tidak ada lagi kudengar panggilan itu.

Itulah salah satu bhaktiku pada keluarga, khususnya orangtuaku. Kegiatan rutin dua kali sebulan. Di luar ini, aku dan abangku menjajakan apa saja hasil kreasi emaku berupa panganan, hal ini mudah mengingat stasiun kereta api dan jalan lintas Sumatera tidak jauh dari rumah kami.

Aku selalu lupa atau tidak sempat mempertanyakan kepada emak sampai beliau meninggal dunia tahun 2013 di Sidodadi-Kisaran. Walaupun teringat kisah lama kami antusias bercerita, tapi aku selalu lupa bertanya.

Tentang apa? "Apakah dosa mak? Apakah salah dan emak marah?" ini tak sempat aku tanyakan pada beliau.

Selepas pulang sekolah aku dan abangku disuruh emak menjajakan Buah Nangka Cucuk ke Peron Stasiun Kereta Api Kisaran.

Buah Nangka yang bersih menggiurkan itu tiap lima biji ditusuk dengan sebatang Lidi Kelapa. Disusun rapi dalam baskom kemudian ditutup plastik putih tembus pandang. Abang yang menjunjungnya, aku membawa baskom kosong untuk menampung biji, Lidi atau kotorannya jika pembeli langsung memakannya di stasiun kereta api.

Entah siapa punya ide, apakah aku atau abangku; kami siapkan Lidi kosong yang sudah diraut bersih. Di tengah perjalanan kami ubah jumlah tiap tusukannya dari lima biji menjadi tiga biji hingga jumah tusukan jauh lebih banyak ketimbang yang dibuat emak. Kelebihan uang penjualan inilah sebagai upah bagi kami. Setoran ke emak tidak berkurang karena harga jual tetap seperti yang ditetapkan emak. Salahkah kami?

Sampai sini dahulu ya...