Bisnis Dan Dakwah

Bisnis Dan Dakwah

Bisnis Dan Dakwah

BISNIS DAN DAKWAH



Dajwah itu wajib bagi setiap pribadi muslim yang telah baligh dan berakal, baik laki-laki maupun perempuan.

"Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah."
(QS. Ali Imron : 110)

Bekerja/bisnis, dalam rangka mencari nafkah yang halal untuk memenuhi kebutuhan, bagi seorang muslim adalah wajib. Agar tidak bergantung hidup kepada orang lain.

Para Nabi dan Rosul kita berdawah dan mereka juga mencari nafkah.

Dimulai dari Nabi Adam alaihissalam. Beliau adalah seorang peternak juga petani. Ada skill lain selain berdawah. Tidak ada nabi kita itu yang skill-nya cuma da'wah. Pasti punya skil lain.

Yang kedua, nabi Nuh alaihissalam, pengrajin kayu dan ahli membuat kapal.
Kenapa Nabi Nuh disuruh bikin kapal? Karena Nabi Nuh, pandai kayu dan pandai konstruksi.
Selain itu, karena nanti dia akan me-restart peradaban setelah air itu surut. Jadi harus memulai lagi. Berarti dia mengerti bagaimana membangun sebuah kota. Jadi Nabi Nuh ini, bagaikan seorang gubernur juga, teknokrat juga, dia juga scientist.

Nabi-nabi kita itu bukan orang yang nggak ada kerjaan. Bukan orang-orang bodoh yang diambil karena nggak ada kerjaan, bukan! Tapi dicari orang yang paling pintar dan orang yang paling sibuk.

Makanya kalau kita nggak sibuk itu sebenarnya jadi masalah. Kalau kita mau evaluasi diri kita masing-masing, check! Ada nggak suatu waktu dimana kita nggak ada kerjaan? Itu berarti kita sedang bahaya. Karena kalau kita betul di dalam da'wah ini, maka habis waktu kita pastinya. Karena kata Imam Hasan Al Bana,Al Wajibaat Aktsaru Minal Auqat (kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Nabi Muhammad sallallahu alayhi wasallam, penggembala dan pedagang.

Para nabi itu berprofesi, punya skill.

Sesungguhnya Allahu SWT mencintai seorang mumin yang giat bekerja.
(HR. Thabrani)

Kita harus punya skill, punya keahlian. Bukan sekedar punya pekerjaan, tapi ahli dalam pekerjaan itu. Misalnya sebagai pendidik, maka jadi ahli di bidangnya. Jangan setengah-setengah, harus ada 1 atau lebih dalam profesi kita, yang betul-betul luar dalam kita kuasai. Kalau misalnya orang berpikir tentang sesuat langsung ingat kita...Nah kan ada dia!


Jangan jadi orang avarage (rata-rata). Dikenal nggak, cemerlang nggak, tapi kerja juga di situ. Apalagi kalau masih muda (bukan berarti yang tua-tua nggak perlu punya spesialisasi).

Kita harus punya satu keahlian yang cemerlang. Yang kemudian membawa manfaat dan diakui manusia. Tentu saja yang paling utaman, diakui oleh Allahu SWT.

Jangan sampai kita tidak punya sesuatu yang nantinya bisa kita banggakan di hadapan Allah SWT, walaupun mungkin nggak bangga-bangga banget. Tapi...ya Allah dengan skill saya, saya sudah menyumbang bagian ini...ini...ini.

Nahh itu tadi profesi nubuwah. Bagaimana tentang sahabat?

Kita harus tau, dulu mereka itu backgrounnya adalah, era jahiliyah. Saat itu suku Quraisy menguasai bisnis regional.

(1) Li ilafi quroysyin. (2) Ilafihim rihlatasyita iwash shoif.
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy (1), (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas (2).
QR Al Quraisy : 1-2

Di dalam musim panas, mereka ke Syam, dalam musim dingin mereka ke Yaman. Berarti mereka mengerti geografi. Mengerti musim dan berarti megerti pola bisnis, pola barang.

Orang bisnis itu harus membahas tentang bisnis plan dulu sebelum memulai bisnisnya. Jangan asal bikin bisnis. Tanya dulu ada pasarnya nggak, dijualnya dimana, barangnya apa, ngambilnya dimana, pesaingnya siapa saja, pasarnya berapa, kuantitasnya berapa, mau pasang harga berapa, kualitasnya bagaimana, kemudian servisnya bagaimana... Nah, kalau sudah itu, sudah mudah. Karena semuanya bisa dilakukan di rumah, business from home.
Pada dasarnya jangan bisnis hanya sekedar bisnis, tapi harus tau pola-polanya.

Pendahulu-pendahulu, keluarga Rosululloh, bani Hasyim itu, adalah pedagang-pedagang. Jadi Rosululloh itu punya keturunan pedagang.

Abdul Mutholib. Abdul Mutolib itu rajanya Yaman, istilahnya. Kalau bisnis ke Yaman dia yang pegang.

Ayahnya Nabi Muhammad saw, Abdullah bin Abdul Mutolib itu pedagang di kota Mekkah, wafat di Yastrib. Banyak yang tidak tau ini. Kita sekedar tahu bahwa, Rosululloh itu ayahnya wafat sebelum dia lahir. Tapi tidak diberitau dia itu wafat dalam Business Trip.

Kemudian Abu Tholib. Abu Tholib dengan Abdulloh sama. Anak satu ibu dari Abdul Mutholib. Beliau adalah mentor bisnisnya Rosululloh. Beliau yang mengajak Muhammad berdagang ke Bushro, Syam.

Khadijah binti Khuwailid, beliau ini berbisnis dan investasi. Ada 100 kepala keluarga (100 laki-laki) yang bekerja untuk bisnisnya. Seorang ibu-ibu dengan bisnis besar. Itu dia lakukan ketika bapaknya, Khuwailid sudah tidak bisa lagi menjalankan bisnisnya, dan khadijah sudah cerai. Waktu itu dia didatangi beberapa orang untuk menikahinya, dan dia tolak. Berubah dia ketika bertemu Muhammad bin Abdullah.

Kenapa Muhammad bin Abdullah itu dikenal Khadijah? Ceritanya apa? Bukan karena cakepnya...bukan karena gantengnya...yang dia dengar adalah, ada pedagang jujur. Ini langka. Di jaman dulu yang namanya pedagang itu culas. Timbangan dimainkan, barang disumpahkan, ..."Ini sudah harga aslinya, saya nggak ambil untung lagi." Itu sumpah pedagang. Mana ada pedagang mau bilang harga asli suatu barang.

Makanya Khadijah mencari Maisaroh (Maisaroh itu seorang laki-laki),"(Maisaroh, panggilkan Muhammad supaya dia mau bisnis berpatungan denganku. Berapapun yang Muhammad dapatkan dari pebisnis yang lain, Khadijah mau membayar 3 kalinya.

:Khadijah tertarik untuk mengetahui apa benar Muhammad ini sejujur yang mereka katakan. Syaratnya untuk dapat 3 kali keuntungan, Maisaroh harus ikut bersama Nabi.

Nabi kita bertemu dengan Khadijah, ketika yang satu berbisnis yang satu lagi terkenal karena jujur. Rosululloh sudah mempunyai gelar Al Amin sebelum jadi Nabi, sebelum jadi Rosul. Rosulilloh terkenal sebagai pedagang yang jujur, yang bisa dipercaya.

Bagaimana profesi para muslimah saat itu? Mengapa dikhususkan tentang ini? Karena ini akan menjadi issue besar, karena banyak muslimah yang terpaksa juga (walaupun tidak wajib), membantu suaminya mencari nafkah. Tapi kalaupun misalnya mau dilakukan maka ini merupakan shodaqoh bagi para muslimah yang membantu suaminya yang kebetulan sedang kurang. Tapi standard utamanya adalah nafkah dari suami.

Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Tholib (ini berarti salah satu anaknya Ali bin Abi Thalib setelah Rosululloh wafat dan Fatimah pun sudah meninggal dunia), adalah seorang bidan. Bidan yang bisa dipanggil ke rumah ketika ada yang sakit, atau ada orang yang datang ke rumahnya. Ali bin abi thalib punya rumah-rumah untuk anaknya. Rumahnya Ummu Kultsum itu dijadikan seperti rumah pengobatan. Dan dia seorang bidan. Di rumahnya itu juga tempat orang yang mau melahirkan.

Rufaydah binti Saad, ini di perang Khondak tahun ke 5 hijriah banyak orang yang terkena panah. Waktu ada kena terpanah itu, Rosululloh suruh,Angkat dia angkat dia, bawa dia ke masjidku, berikan kepada bintu Saad. Nggak disebut Rufaydahnya. Bawa dia ke anaknya Saad yaitu perawat. Jadi dia bikin tuh masjid Al Nabawi itu jadi tempat bangsal. Dia sendiri keliling merawat yang patah tangannya, yang luka dia verbanin juga.

Aisyah binti Abi Bakr, pakar kesehatan. Sering ada yang datang bertanya pada Aisyah,Rosululloh kalau sakit begini, makannya apa? Dari balik tirainya dia menjelaskan..makannya ini...ini... udah seperti ahli gizi.

Kata Aisyah orang-orang Anshor kalau bertanya sampai ke detail-detailnya. Perempuan Anshor kalau bertanya nggak ada malu-malunya. Itu ungkapan-ungkapan Aisyah. Jadi ditanya sampai ke detail-detailnya. Makanya Aisyah kalau ditanya sampai ke detail-detailnya jadi tahu.

Kitapun harus tahu sampai ke detail-detailnya tentang profesi kita. Kita harus ngelotok di situ. Nggak harus berusaha tahu semuanya, tapi sepesifik. Spesialis di satu titik. Jika ada yang bertanya tentang titik kita itu, kita bisa membahasnya sampai mendalam. Sampai ke titik orang lain tidak tau. Tapi kita perlu generalis juga, jangan sampai kita buta tentang yang lain. Tapi di hal tertentu perlu kita spesifik.

Jadi point penting yang perlu kita ketahui adalah, bisnis itu tidak selalu menjual barang tapi profesional juga bagian dari bisnis. Karena khusus untuk muslimah ini yang profesional seperti ini bisa diatur sedemikian rupa hingga nggak terlalu banyak bertemu dengan yang bukan mahromnya.

Bikin klinik, bikin rumah sakit, rumah bersalin, itu salah satu bentuk kekuatan. Apalagi sekarang bpjs sering susah, kalu kita bisa mengandalkan semacam bantuan dari muzakki , ini bisa menjadi program unggulan kita untuk berdakwah. Dan juga untuk yang susah mendapatkan perawatan di tempat-tempat lain, kita bisa memberikan perawatan dengan biaya murah atau cuma-cuma...masya Allah.

Contohnya Ikhwanul Muslimin di Mesir, kalau orang sakit itu pasti datang ke Ikhwanul Muslimin, apa lagi orang-orang tak mampu. Walaupun kalau sedang masanya nyoblos, nggak nyoblos Ikhwanul Muslimin...malah benci sama Ikhwanul Muslimin. Tapi kalau anaknya sakit, nggak berani dia bawa ke yang lain karena Ikhwan yang paling profesional. Doktor-doktor lulusan Al Azhar ada di situ. Doktor-doktor ini melakukan pendekatan dengan cara gratis. Ditangani oleh ahli, obat-obatanan lengkap. Tapi itulah namanya hidayah, pas lagi butuh datang, pas lagi harusnya dia mendukung, dia tidak dukung. Tapi apakah dakwah berhenti? Tidak. Dia tetap jalan. Karena hitung-hitungannya dari Allah SWT.

Bisnis itu adalah semangat kemandirian. Kita ambil contoh, kisah Abdurrahman bin Auf. Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf menjadi pelopor kaum Muslimin.

Peristiwa hijrah bukanlah hal yang mudah dilakukan saat itu. Keputusan itu dilakukan saat itu keadaan ummat muslim dalam keadaan yang sangat tidak baik. Berbagai ancaman dan pembunuhan terjadi. Karenanya, hijrahpun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Abdurrahmanbin Auf saat itu harus meninggalkan seluruh usaha dan kekayaan yang dia miliki dari hasil jerih payah bertahun-tahun.

Sesampainya di Madinah (kota yang dulu bernama Yastrib), Rosululloh mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi Al-Anshari.

Dari Anas ra, telah berkata...dan berkatalah Saad kepada Abdurrahman:Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silahkan pilih separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai 2 orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan ku ceraikan ia hingga anda dapat memperistrinya...! Jawab Abdurrahman bin Auf :Semoga Allah memberkati anda, istri dan harta anda! Tapi tunjukkan letaknya pasar agar aku dapat berdagang..!

Jawaban Abdurrahman adalah jawaban dan sikap seorang yang mandiri. Seorang pebisnis itu punya kemandirian. Bisa saja kalu dia mau dia jawab,Alhamdulillah akhi...mana rumahnya...mana istrinya... (Itu jawaban orang-orang yang pemalas, yang mau sukses cara cepat)...Mana rumahnya, unta bisa nggak sekalian... ini mah istilahnya...kemaruk.

Tapi ada 2 sisi di sini, sisi pertama sisi berbagi. Jadi dulu pebisnis di kalangan kaum muslimin itu, tidak ada pebisnis yang pelit. Karena hampir seluruhnya dermawan. Di zaman-zaman sekarang ini semakin banyak dikenal orang yang pelit.

Dulu orang kaya dan pelit itu nggak menjadi synonym. Yang namanya muzakki, muusiruun (berkecukupan), ghoniyyun pastilah dermawan. Ini menunjukkan adanya degradasi,adanya pelunturan. Kenapa sampai ada muslim, kaya, pelit. Ini baru ini yang seperti ini.

Jadi itu tadi sisi berbagi. Sisi Saad bin Robi, dan sisi Abdurrahman bin Auf. Yang satu begitu dermawannya, yang satu tidak mentang-mentang, tidak aji mumpung.

Bahasa tunjukkan, itu bukan berarti cuma menunjukkan tuh di sana. Tunjukkan di sini, tolong jelaskan, kontennya, peluang pasarnya.

Katanya, tunjukkan padaku letak pasar. Dan kita tau sore harinya Abdurrahman bin Auf sudah pulang membawa satu sak gandum, satu botol cuka (dulu cuka itu mahal). Makanan kalu sudah pakai cuka itu sudah pasti hi-class. Kalau yang lain makan biasa saja. Tidak pakai rasa.. cuka yang dibelinya itu sebotol dalam sehari itu, minyak zaitun, dan mentega.

Wahai Abdurrahman, mau kemana engkau dengan itu? tanya Rosululloh. Dia membawa semua itu pulang.

Dan besoknya lagi dia sudah punya lapak. Jadi rahasia suksesnya Abdurrahman bin Auf, karena ketika dia berbisnis ini, niatnya untuk membantu orang lain.

Kalau kita bisnisnya untuk anak (?), dibungkus dengan statement,Nanti kalau saya sudah kaya, saya akan bayar zakat. Lama banget. Panjang banget prosesnya.

Abdurrahman bin Auf, begitu uang itu dia bawa pulang, dia bagi-bagikan langsung ke orang-orang yang membutuhkan. Hari berikutnya kalau dia berbisnis lagi, dibantu doa orang-orang yang dia tolong. Nahh kita bagaimana?

Kenapa ada orang, kog bisnisnya sukses terus sih, barangnya sama, tempatnya sama, waktunya sama, dicicip rasanya mirip. Kog dia laris terus? Mungkin diantara kita pernah bertanya-tanya seperti itu atas apa yang kita alamai.

Coba kita tanya ke diri kita, mungkin saja kita nggak mikirin untuk ngasi orang. Jadi kita cuma dapat doa anak dan istri/suami, itupun kalau sempat dia doakan.
Bisnis model Abdurrahman bin Auf, pakir miskin ikut doain dia juga.

Selama ini saya berbisnis ini, tapi tak maju-maju, Ustadz.
Pertanyaannya, Udah kamu doakan?
Sudah Ustadz. Malah tiap malam.
Sudah kamu bikin orang lain berdoa untukmu?
Nah itu yang belum ustadz.

Yahh itu contoh curhatan seseorang misalnya kepada seorang ustadz. Intinya berbisnislah untuk kebaikan banyak orang, bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri.

Target bisnis itu bukan menjadi kaya raya, walaupun itu bisa menjadi salah satu hasilnya. Target bisnis itu, supaya kita tidak menyusahkan orang lain, supaya kita tidak menjadi beban negara karena menjadi orang miskin, supaya kita dapat membantu orang lain yang susah, dan supaya kita juga bisa membuat Islam ini tegak. Karena para sahabat dahulu yang paling sering mereka lakukan adalah, ketika ada ekspedisi militer sementara mereka tidak bisa berangkat pastilah dananya berangkat. Infaq shodaqohnya tinggi sekali.

Pertanyaannya, supaya seimbang antara bisnis dan da’wak itu gimana?

Satu contohnya adalah Khadijah binti Khuwailid. Kita tau beliau saudagar besar tapi kita nggak banyak yang tau kalau dia itu sejak dari Mekkah punya rumah-rumah yatim. Dan yang masuk di rumah yatim itu bukan hanya anak-anak muslim. Makanya Khadijah binti Khuwailid itu pernah disebut juga ummul masakin, ummul yatama (ibunda para yatim). Jadi para sahabat-sahabat dan para tabiin itu sebagai pebisnis, rahasia suksesnya adalah mereka itu, orang-orang yang didoakan banyak orang.

Mau diputer-puter dibilang karena kecerdasan melihat pasar, oke benar juga, bagus produknya, oke benar juga, pelayanan yang prima, iya benar juga, tapi satu hal yang nggak bisa diutak atik yaitu mereka itu adalah dermawan. Secanggih apapun bisnis kita kalau kita nggak dermawan, ada titik maksimalnya.

Usman bin Affan pernah membeli sumur, padahal bisnisnya bukan bisnis air dan dia bukan PAM, bukan bisnis pembotolan air, tapi dia beli sumur.

Sumur itu sumur Raumah. Sebelumnya, dimiliki orang Yahudi. Kala itu Madinah dalam kondisi paceklik. Masyarakat sulit mendapatkan air bersih untuk minum maupun berwudhu. Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan adalah sumur Raumah. Waktu itu ada sumur orang Yahudi. Dia manfaatkan kondisi ini untuk menjual air miliknya. Masyarakat diwajibkan membeli dan antri untuk mendapatkan air sumur Raumah. Satu pikul air itu dicasnya 1 dirham. Untung besar dia.

Utsman bin Affan berusaha membebaskan sumur tersebut dari pemiliknya. Dia datangi orang itu dan menawarkan harga tinggi. Awalnya, tawaran Utsman bin Affan ditolak. Utsman tetap teguh dan menawarkan harga yang lebih tinggi.

Hingga akhirnya, Utsman menawarkan jalan keluar kepada pemilik sumur untuk membeli setengah dari sumur itu.

Yahudi itu otak dagang. Dia nggak tau taktik Utsman bin Affan. Dia hitung-hitung. Pas air lagi tinggi saya dapat sekian, pas rendah saya dapat sekian. Utsman bin Affan nawarin sekian. Wah harganya sesuai. Akhirnya harinya selang seling.

Dalam hati Yahudi itu, Utsman bin Affan bodoh, karena mau cuma kebagian di hari-hari yang rendah.
Dia pikir Utsman mau beli itu untuk jualan juga seperti dia.

Sesudah deal pembayaran, Utsman bin Affan membuat papan pengumuman. Yang mengambil hari saya gratis. Pembeli pun pindah hari. Ngapain nunggu harinya Yahudi. Akhirnya antrian panjang orang mengambil air. Dan atas kuasanya Allah SWT, di hari-hari Utsman, air banyak banget.

Waduh, kata Yahudi itu. Saya tertipu sama Utsman.
Rencananya dia mau menipu balik. Kan sumur ini lagi rendah, airnya dikit, diharinya Utsman airnya banyak. Dia jual sumurlah.

Setelah dibeli Utsman, maka air itu penuh terus. Sampai sekarang airnya nggak berhenti. Utsman bin Affan sudah meninggal berapa tahun? Dan dia belum masuk ke surga. Tapi dia sudah punya kavling dan zona-zonanya semakin banyak. Satu sumur ini menjadi satu istana untuk Utsman nanti di surga.

Jadi kalau mau berbisnis itu, yang paling penting niatkan bahwa bisnis itu adalah dalam rangka dakwah kepada ummat. Dengan begitu, Allah atur yang lainnya, Allah bereskan yang lainnya.
Tapi kalau kita coba bereskan sendiri...ya sekuat potensi kita saja.

Prinsip Dawah/Bisnis para sahabat :
Yang pertama, bisnis tidak melalaikan para sahabat. Itu kata kunci. Contoh yang sangat populer adalah ketika Umar bin Khattab lagi ngurus salah satu kebunnya. Tiba-tiba azan maghrib. Lalu dia tinggalkan itu kebunnya.

Sampai di mesjid Nabawi, Rosululloh sudah mengangkat takbir. Dan Umar sholat di belakang. Ketinggalan kan? Setelah selesai sholat dia berkata,Ya Rosululloh aku lalai karena ngurusi kubun. Maka ambillah kedua kebunku tersebut untuk kemashlahatan ummat.
Rasululloh berkata,Ambil satu.
Pilihlah ya Rosululloh dan telah aku infaqkan. Tetap aku urus tapi hasilnya menjadi wakaf. Wakaf untuk semua orang yang membutuhkan.

Kebunnya diwakafkan, hasilnya dimanfaatkan oleh orang-orang yang membutuhkan. Itu telat takbiratul ihram lho....bukan telat sholat. Kalau kita setiap hari telat takbiratul ihram harus infaq kebon, berarti langsung minus kita.

Jadi para sahabat itu intinya bisnis mereka tidak melalaikan dari dakwah apalagi dari menghadiri jihad fi sabilillah.
Itu prinsip dakwah dan bisnis seimbang.

Yang kedua persaingan tidak membut mereka bermusuhan. Tidak ada cerita sahabat saling cakar-cakaran, saling berantem karena lapak. Ohh sekarang cerita begini banyak banget. Orang jadi musuhan, orang jadi berantem, gara-gara bisnis.

Ada ibu-ibu tidak saling tegur. Kenapa? Berantem bisnis online. Seolah-olah dia pikir kalau tidak berbisnis dengan cara itu , nggak ada rizkinya. Padahal rizki itu tidak akan tertukar. Kalau begitu bisnisnya malah menjadi kelemahan dakwah. Untuk apa kita bernisnis kalau karena bisnis kita jadi nambah musuh? 1 musuh terlalu banyak, 1000 kawan terlalu sedikit.

Yang ketiga kegiatan bisnis para muslimah tidak menjadikannya keluar dari wilayah aslinya.
Kan ada contohnya Khadijah binti khuwailid.
Bener niy mau jadi seperti Khadijah? Ingat, Khadijah begitu lahir Zainab binti Muhammad, sudah tidak bisnis lagi. Berhenti setelah Rosululloh mendapat anak pertama.

Bisnis itu langsung dioperasikan oleh Rosululloh dan Rosululloh dibantu oleh Zaid bin Kharitsah. Jadi Khadijah itu sebentar hidupnya di bisnis.

Setahun setelah menikah dengan Rasulullah, maka dia berhenti. Jadi jangan sampai muslimah bablas. Ada juga kan, muslimah nggak mau berhenti bisnis meski hidupnya tercukupi, karena sudah merasa ke-enakan berbisnis.

Yang keempat, hasil bisnis para sahabat menjadi sumber pendanaan dakwah. Nggak usah bisnis kalau kita nggak iklas menginfakkan usaha kita. Harus dialokasikan dari awal. Jangan sampai bisnis ini sudah ada keuntungan, dipakai dulu sisanya.

Yang harus sudah dipersiapkan di depan itu adalah infaq dan shodaqoh. Segera sebelum kita merasa berat, lalu sisanya, kita kelola untuk kebutuhan sendiri.

Mungkin kita berpikir,Kalau diselesaikan infaq shodaqohnya, kalau saya keluarin sekarang, ntar pas mau pakai, habis.

Coba dibalik. Kalau belum dibayarkan untuk infaq shodaqoh ntar keburu habis.

Kalau untuk harta,waktu kita habis untuk menjaganya. Kalau ilmu, ilmu yang akan menjaga kita. Kalau berbisnis harus dengan ilmu supaya tidak habis waktu ngurusin harta.

Jangan menjadikan dakwah menjadi lahan bisnis. Para sahabat Nabi punya bisnis. Tapi, bisnis menjadi penopang dakwah mereka.

Setiap pebisnis dari para sahabat selalu mempunyai sentra pengayoman sosial. Jadi begitu merancang bisnis, seketika itu juga merancang badan sosialnya apa. Makdsudnya langsung segera dipetakan, kalau saya bisnis ini saya harus menyalurkannya ke rumah yatim yang ini, mesjid ini akan saya bantu pembagunannya. Maka bisnis itu langsung dibantu oleh Allah SWT.

Bisnis para sahabat mendekatkan/mengantarkan mereka ke jannah. Kalau menjauhkan dari jannnah, tak usah bisnis. Jadi bisnis itu dalam rangka menggapai ridho Allah, in syaa Allah mendatangkan ridho nya manusia walaupun nggak mungkin semua manusia ridho.

Bagaimana agar seimbang antara dakwah dan bisnis? Seimbang itu, kalau bisnis kita ini semakin mendekatkan kita kepada surga. Kalau sebelum ada bisnis sudah sholat lail, berarti setelah berbinis makin rajin sholat lailnya.

Sebelum bisnis kita infaq sedikit sekali, tapi setelah bisnis mulai ditambah.

Perumpamaan orang yang membelanjakan harta benda mereka di jalan Allah, adalah laksana satu biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji. Dan Allah akan menggandakan (pahala) kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.
(QS. Al-Baqoroh (2) : 261)


Catatan Diana
Dari Ceramah
Ustadz Agung Waspodo, MPP
Di Raker Bless
181218