Cinta Dalam Hati Dicky Wahyudi Pratama

Cinta Dalam Hati Dicky Wahyudi Pratama

Cinta Dalam Hati Dicky Wahyudi Pratama

CINTA DALAM HATI
karya Dicky Wahyudi Pratama




Hari yang sangat lelah untuk mengawali pagi yang begitu indah. Tampak terlihat senyum di raut wajah siswa SMA Harapan Bangsa.

Semilir angin berhembus masuk dari jendela menambah kesejukan di pagi hari.

Seluruh siswa tampaknya sangat antusias dan fokus mendengarkan penjelasan dari guru, apalagi guru tersebut masih muda memiliki wajah tampan dan singel.

Seribu bola mata tertuju pada satu titik fokus di hadapannya. Suasana di kelas begitu hening dan tenang sehingga membuat salah satu siswa yang bernama Dimas terhanyut dalam ketenangan suasana di kelas.

Ternyata Dimas pada saat itu sedang memikirkan seorang wanita yang ia sukai, wanita itu bernama Indah teman sekelas Dimas.

Dimas adalah seorang pria yang baik dan shaleh ia suka menghabiskan waktu dengan membaca buku sehingga banyak temannya yang mengatakan Dimas adalah pria cupu, culun, kampungan, dan si kutu buku. Sedangkan Indah adalah Primadona di sekolah SMA Harapan Bangsa.

Dentingan jam terus berjalan dan menuju pada satu titik, tak berapa lama bel berbunyi yang menandakan pelajaran telah usai. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas untuk beristirahat.

Seperti biasa Dimas hanya di kelas saja untuk membaca buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah dan mengerjakan tugas-tugas temannya yang bernama Bimo. Bimo adalah ketua kelas sekaligus ketua genk di dalam kelas XII IPA 3.

Dimas yang dianggap lemah dan selalu disepelekan oleh teman-temannya karena tidak mau bergaul dan berbeda kasta dari mereka. Dimas sering dibully dengan ejekan si kutu buku dan si lemah sebab memiliki perawakan yg culun dan kampungan oleh teman-temannya, termasuk Indah wanita yang ia cintai juga ikut membullynya.

Tapi, Dimas selalu sabar menghadapi tingkah laku teman-temannya. Dari semua teman-temannya hanya Dimas yang orang tidak mampu. Namun, keinginan dan tekatnya untuk bersekolah dan menggapai cita-cita semakin kuat. Dia tidak menghiraukan olokan dan cibiran teman-temannya. Tetapi, beruntunglah Dimas masih memiliki teman yang bernama Suci. Suci adalah teman yang baik dan selalu paham tentang keadaan Dimas.

Bel masukpun berbunyi pertanda bahwa jam istirahat telah selesai. Seluruh siswa segera masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran berikutnya.

Saat itu pelajaran yang akan berlangsung adalah Matematika, pelajaran ini sangat tidak disukai dan dibenci oleh seluruh siswa terkecuali Dimas sehingga Guru matematika sayang padanya. Waktu jam pelajaran telah selesai, Pak Guru segera memberikan PR untuk dikerjakan di rumah.

Seperti biasa Bimo selalu menitip bukunya kepada Dimas untuk dikerjakan, dengan pasrah dan tidak menjawab Dimas menyanggupinya. Kemudian teman-temannya pulang dan meninggalkannya, kecuali suci sahabat baik yang mencoba menasehati Dimas.
“Mengapa kamu selalu diam saja Dimas, sedangkan kamu sering dibully oleh Bimo, Indah dan teman-teman yang lain, tetapi kamu tetap baik padanya”. Tanya suci pada Dimas.
Dimas hanya membalas dengan senyuman dan berkata “Biarkanlah semua itu Allah yang membalasnya. Kita tidak perlu untuk membalas mereka”. Jawab Dimas
Selepas perbincangan itu akhirnya mereka berjalan untuk pulang ke rumah masing-masing. Rumah Dimas dan Suci tidak jauh jaraknya dari sekolah sehingga mereka sering berjalan kaki bersama.
Tidak berapa lama, sampailah Dimas ke rumahnya dan masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Karena kelelahan akhirnya Dimas terlelap tidur dan bermimpi seorang wanita yang ia cintai yaitu Indah. Hari mulai petang dan Dimas tak kunjung bangun dari tidurnya, kemudian Ibunya masuk ke kamar untuk membangunkannya.
“Mas,mas… bangun hari mulai petang nih, cepat mandi lalu pergi untuk shalat” ujar ibunya.
“Baiklah Bu, Dimas akan mandi” jawab Dimas.
“Ya sudah bergegaslah setelah itu kita akan makan bersama”
Dimas mulai bergegas untuk mandi, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya suara adzan magrib berkumandang menyerukan agar umat-umatnya segera menunaikan kewajiban. Dimas segera menuju masjid dan mengambil air wudhu untuk shalat. Dimas berdoa mengutarakan kepada yang Maha Kuasa mengenai isi hatinya kepada seorang wanita dan mencurahkan segalanya hanya kepada Tuhan pemilik alam semesta ini.
Terbesit dipikirannya dan ragu untuk mencintai Indah, sebab manalah mungkin Indah jatuh hati pada Dimas karena perbedaan kasta yang membelenggu cintanya. Setelah usai shalat dan mencurahkan isi hatinya kepada Sang Pencipta. Dimas kembali pulang ke rumah dan menemui Ibu dan Ayah untuk makan malam bersama. Malam ini mereka makan seperti dengan hari-hari sebelumnya dengan makan tempe goreng dan nasi saja sudah cukup. Sebab Ayahnya bekerja sebagai tukang becak dan ibu sebagai buru cuci. Dalam hati Dimas sangat sedih melihat keadaan keluarganya serba kekurangan, ia ingin sekali sukses maka dari itu ia giat untuk belajar agar dapat mendapatkan beasiswa kuliah. Setelah selesai makan ia segera menuju ke kamar untuk mengerjakan PR matematikanya dan juga Bimo.
Langit sangat gelap malampun sudah sangat larut, semilir angin yang berhembus menerpa sayup-sayup mata membuat Dimas mengantuk, tetapi ia tetap terjaga dari rasa kantuknya dan kembali fokus kepada tugas yang diberikan oleh Guru. Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa kantuknya perlahan matanya mulai terpejamkan dan tertidur di meja belajar hingga membuatnya tak sadarkan diri. Dimas bermimpi tentang wanita itu lagi, di mimpi tersebut hanya mereka berdua yaitu Indah dan Dimas serasa dunia milik berdua. Dimas sangat bahagia akan hal itu karena berbeda sekali dengan dunia nyata. Tiba-tiba tersentaklah Dimas karena bukunya jatuh, hingga tahu bahwa sang fajar telah terbit dari ufuknya. Dimas segera merapikan buku-bukunya untuk dimasukan ke dalam tas. Tak lupa ia juga shalat shubuh.
Akhirnya tibalah Dimas di sekolah dan memberikan PR matematika kepada Bimo. Lalu duduklah Dimas di bangkunya, selang beberapa menit masuklah Pak Guru, Semua siswa mengumpulkan tugas yang telah diberikan sebelumnya. Untuk memulai pelajaran Pak Guru memulai pembicaraan tentang kegiatan siswa XII IPA 3 yang ternyata 3 bulan lagi mereka akan tamat dari Sekolah SMA Harapan Bangsa. Sebagian siswa yang mendengar hal itu ada yang merasa bersedih karena akan berpisah dengan temannya, ada juga yang bersikap biasa saja. Dimas yang merespon hal itu sangat bersedih sebab ia akan berpisah dengan wanita pujaannya.
Hari-hari Dimas lalui selalu seperti itu, dia selalu di bully oleh teman-temannya dan menjadi pembantu Bimo dengan mengerjakan tugas-tugasnya. Hari telah berganti hari, bulan telah berganti bulan dengan hitungan hari saja kisah di masa SMA akan berakhir. Di hari detik-detik perpisahan. Dimas bercerita soal perasaanya menyukai Indah kepada sahabatnya Suci.
“Suci, aku mau cerita soal rahasia yang kupendam selama ini!” Ujar Dimas.
“Apa itu Mas? Ceritalah, Kamu kan sahabatku”. Tanya suci.
“See.. see.. sebenarnya, aku mencintai Indah!”.
“Apa…! Kamu mencintainya. Mana mungkin Indah mencintaimu Mas. Sebab dia itu orang kaya sedangkan kamu Mas?”. Jawab Suci
“Aku tahu akan hal itu, tetapi perasaan ini tidak dapat dibohongi. Aku sangat mencintainya, aku akan membuktikannya”. Jawab Dimas dengan tegas.
“Baiklah kalau memang itu maumu, pertahankanlah dan buktikan padanya suatu saat nanti!”.
“Iya Suci, terima kasih atas saranmu”
Lalu Dimas mengeluarkan surat yang diambil dari tasnya dan memberikan pada Suci.
“Aku bisa minta tolong padamu?”. Tanya Dimas
“Apa itu Mas, tentu saja bisa!. Kita inikan sahabat”. Jawab Suci.
“Apakah kamu bisa memberikan surat ini kepada Indah nanti saat aku dan keluargaku tidak berada disini lagi?”
“Memangnya kamu mau kemana Mas?. Apakah kamu mau pergi?”. Tanya Suci penasaran.
“Ya, rencananya keluargaku akan pindah dari sini dan aku akan melanjutkan kuliah disana sebab aku mendapatkan beasiswa dari pemerintah!”
“Alhamdulillah kalau begitu, aku sangat senang mendengarnya. Jadi, kamu akan meninggalkanku?”.
“Tenang saja Suci, suatu saat nanti kita akan bertemu doakan saja aku menjadi orang sukses sehingga dapat menggapai cita-citaku”. (sambil bersedih)
“Jadi, aku harus memberikan surat ini pada Indah?”. Tanya Suci
“Iya Suci, kamu harus memberikan surat ini kepada Indah saat aku tidak berada disini lagi”. Jawab Dimas
Tampaknya itu kali terakhir perpisahan Dimas dengan Suci sahabatnya, karena besok dan seterusnya mereka tidak akan bertemu lagi dikarenakan Dimas yang akan pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studinya. Setelah berpisah dengan Suci, Dimas segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah banyak barang-barang telah menumpuk. Keluarga Dimas bergegas mempersiapkan barang-barangnya untuk pergi menuju bandara. Di tengah perjalanan Dimas sempat bersedih memikirkan pujaan hatinya itu. “Namun, apalah daya kalau jodoh takkan kemana. Jodoh itukan ditangan Allah, karena rezeki, maut, dan jodoh Dialah yang mengatur itu semua”. Ujar Dimas dalam hati.
Di lain waktu, Suci segera berlari menuju rumah Indah untuk memberitahukan semuanya. Suci ingin memberikan surat kepada Indah sesuai apa yang telah dipesankan oleh Dimas kepadanya. Dari kejauhan tampak terlihat Indah yang berada di depan pintu. Suci pun memanggil dengan keras.
“Indah…. Indah…”. Teriak Suci. Indahpun melihat Suci.
“Ada apa Suci? Kenapa kamu berlarian dan berteriak-teriak?”.
Dengan nafas naik turun akibat berlarian Suci menjawab
“Ini kamu baca surat dari Dimas!”. Sucipun memberikan surat itu kepada Indah.
Lalu Indah mulai membuka surat itu dan membacanya yang isi surat itu adalah.
“Untukmu yang hari ini dititipkan Allah dihatiku. Aku tahu aku telah salah mencitai seseorang dihatiku, sebab aku ini bukanlah siapa-siapa. Tetapi yang harus engkau tahu, aku mencintaimu dan ragu untuk mengungkapkannya. Aku hanya mencintaimu diam-diam karena cintaku bukan diatas lisan dan tak harus kuucapkan. Cintaku bukan pula dimataku, maka tak harus aku menatapmu. Cintaku bukan pula pada jemariku, maka tak perlu kusentuh dirimu. Aku ingin mencintaimu dengan memuliakanmu dan diriku. Aku mencintaimu dengan menjaga kehormatanmu dan kehormatanku, dan aku mencintaimu karena Allah SWT. Aku tetap yakin inilah yang terbaik. Memang benar aku merahasiakan semua ini darimu, karena aku mencintaimu dalam diam dan mencintaimu dari kejauhan, karena jika hadirku saat ini akan menggoyahkan iman dan ketenangan, mungkin juga akan membawa kelalaian. Lalu, mencintaimu dengan kesederhanaan hanya akan menambah penderitaan bagimu sebab karena aku orang yang tak mampu dan kamu juga tak mau itu. Di balik cinta diamku terdapat bukti kesungguhan. Di balik cinta diamku, aku selalu menjanjikan kesetiaan dan keseriusan. Takdir rusukku tidak tahu dengan siapa. Namun, setidaknya saat ini baru kamu yang mampu meluluhkannya, aku berharap kamulah sang rusuk idaman dan sejujurnya aku mencintaimu. Untuk itu aku akan membuktikannya ketika aku sukses. Maka hari ini juga aku akan pergi dari kota ini untuk mengadu nasib. Semoga engkau baik-baik disana dan sabar menungguku untuk kembali. Biarlah kalau tiba waktunya aku akan menjemputmu dalam sebuah ikatan yang pasti. Aku akan menjadi yang terbaik untukmu. Mungkin ini saja yang bisa kutuliskan untukmu semoga kamu tidak marah karena aku mencintaimu”.
Karena sudah membaca surat yang ditulis oleh Dimas, Indah menjadi terharu dan matanya berbinar-binar dan menyesali atas perbuatannya kepada Dimas. Lalu dia bertanya pada suci.
“Jadi, sekarang Dimas dimana?”. Tanya Indah
“Dimas sekarang sedang menuju bandara” lalu indah segera mengambil kunci motornya dan berkata. “Ayo suci, kita susul Dimas. Aku ingin bertemu dengannya!”.
Lalu mereka segera menuju ke bandara untuk menyusul Dimas.
Setelah beberapa lama di perjalanan, Dimas dan keluarga sampai di bandara dan menunggu panggilan untuk menaiki pesawat. Dilain lokasi Suci dan juga Indah yang ingin menyusul Dimas tampaknya juga telah sampai di bandara. Dimas, Ayah, dan Ibu kemudian melangkahkan kaki menuju pesawat. Di situasi itu Indah dan Suci melihat Dimas yang akan segera melangkahkan kakinya kearah pesawat. Dari kejauhan Indah dan Suci memanggil Dimas,namun tidak didengar. Akhirnya mereka berlari secepat mungkin. Tetapi, karena waktu sudah tidak terkejar lagi dan pesawat juga sudah mulai lepas landas dari bandara dan niat Indah untuk bertemu dengan Dimas telah pupus. Terlihat dari mata Indah setetes air mata yang jatuh membasahi bumi, suci dan Indah merasa sedih ditinggalkan pergi oleh Dimas.
“Bagaimana ini Suci, Dimas sudah pergi?”. Ujar Indah dengan nada sedih.
“Sudah tidak apa-apa, kita doakan saja agar Dimas segera kembali dan akan menepati janjinya padamu”. Jawab Suci
Tahun telah berganti, sudah 8 tahun Dimas meninggalkan kota Medan dan meninggalkan sahabatnya Suci. Setiap saat Suci selalu menunggu kabar dari Dimas. Namun, kabar itu tidak pernah datang padanya.
Pada suatu ketika Suci berjalan-jalan, tak sengaja ia menabrak seorang pria yang sangat tampan, gagah dan sepertinya seorang konglomerat. Pria tersebut memakai kacamata hitam, lalu pria itu membuka kacamatanya. Betapa kagetnya Suci, ternyata pria tersebut adalah Dimas sahabatnya dulu yang semasa sekolah penampilannya sangat culun kini berubah menjadi seorang yang sangat kaya raya. Dimas telah merubah keadaannya dan merubah hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
“Kamu… kamukan Dimas, apakah kamu Dimas? Aku tidak salah mengenalimukan?”. Tanya Suci penasaran
“Tidak Suci, iya aku Dimas. Aku sudah kembali dari Jakarta beberapa minggu ini. Sekarang aku mencarimu, ternyata kita berjumpa disini”. Jawab Dimas
“Kamu sekarang sudah sukses dan kamu telah mampu merubah nasibmu. Sekarang dimana orang tuamu?”. Tanya Suci lagi
“Alhamdulillah, ini berkat kamu juga. Orang tuaku sekarang tinggal disini juga. Aku telah membeli rumah disini dan akan tinggal disini”.
Lalu dari perbincangan itu Dimas menanyakan soal Indah pada Suci karena ingin menepati janjinya.
“Apakah Indah sehat dan dia masih sendiri?” Tanya Dimas penasaran
“iya dia sehat dan juga masih sendiri. Dia sekarang juga banyak berubah menjadi wanita yang soleha, ia selalu menanyakan tentangmu padaku dan selalu menunggumu kembali untuk menepati janjimu. Tetapi, karena kamu tidak pernah memberitahu kabarmu padaku jadi aku tidak tahu apa yang mau kujawab padanya!” jawab Suci
“Syukurlah kalau begitu. Aku memang sengaja merahasiakan kabarku pada kalian. Baiklah aku ingin bertemu dengannya dan ingin melamarnya hari ini juga. Aku akan memberitahukan pada orang tuaku untuk mempersiapkan lamaran kami”.
Dihari itu juga Dimas segera memberitahukan tentang rencananya untuk melamar Indah, ternyata kedua orang tua Dimas setuju akan rencana itu. Sebaiknya mereka segera menuju ke rumah Indah. Tak disangka-sangka Indah terkejut melihat kedatangan Dimas dan kedua orang tuanya, karena sebelumnya Suci tidak memberitahukan kalau Dimas sudah kembali, setelah berbincang-bincang antara kedua pihak keluarga, keluarga Indah setuju mengenai rencana tersebut.
Akhirnya, mereka resmi menikah. Dimas sangat bahagia begitu juga dengan Indah. Keinginan Dimas memiliki Indah dengan cara yang ditentukan Allah telah tercapai. Semua menyambut dengan rasa syukur, keduanya hidup bersama bahagia hingga maut memisahkan.