Hormat Kepada Guru

Hormat Kepada Guru

Hormat Kepada Guru

Tulisan ini sebelumnya pernah aku tayangkan di FB pada tanggal 2 October 2017.

Ku buka lagi karena sedang ramai kasus guru Budi yang kehilangan nyawa oleh siswanya.

Inilah yang ku tuliskan pada tinggal 2 October 2017 itu....

Seorang siswa bercerita padaku tentang kebenciannya pada guru....
Aku bertanya dalam hati kenapa begitu mudah membenci guru?

Pantas kalau "zaman now" ilmu yang mudah pun tak mudah masuk; tidakmungkin ilmu yang disampaikan bisa kita serap kalau hati kita membenci yang menyampaikannya.

Aku ingat masa-masa sekolah dulu apapun bentuknya apapun karakter gurunya tetap kita terima. Kesal mungkin ada tapi tak terpikir membencinya. Yang judes ada.... yang galak ada.... yang cuek ada yang cerewet ada....tapi tetap hormat padanya selaku orang yang lebih tua.

Teman-teman yang penentang guru memang ada tapi ya memang itu karena dia siswa yang dikenal sedikit nakal.
Tapi sekarang....siswa dalam tampilan baik-baikpun mudah sekali membenci guru....

Aku cuma bisa bilang....nak tau kah kamu...gurumu marah bukan karena rasa benci tapi ingin kamu jadi lebih mengerti....
Tak ada kepentingan apapun baginya atas semua ini.... Tapi dia tetap mengajar dan mendidikmu karena rasa tanggung jawabnya untuk sampaikan ilmu....
Pantaskah dia kau benci?

Gurumu marah demi kebaikanmu lalu kau marah dan menebar kebencian untuk mengenyahkannya itu demi apa?
Apa itu bukan sombong?
Berkahkah ilmu orang yang sombong?

Betul....sekarang era kebebasan tapi bukan era kebablasan...

Kamu bebas mengatakan pada gurumu apa maumu tapi bukan bablas membencinya karena tak sesuai keinginanmu.
Bicaralah....jujurlah....dan mari bersama saling perbaiki itulah arti kebebasan yang semestinya.

Itu yang pernah aku tuliskan.



Kalau kita ingat kembali masa kecil kita...
Kita pernah diajarkan lagu ini....

Hormati gurumu sayangi teman.... Itu lah tandanya kau murid budiman...

Seiring berjalannya waktu, syair berubah menjadi...

Hormati gurumu sayangi teman.... Itu lah tandanya kau murid berbudi....

Sampai sekarang pun masih ada guru yang mengajarkan lagu itu.

Begitulah pelajaran moral ditanamkan lewat lagu....

Lalu.... Kalau ada yang menghajar guru sampai kehilangan nyawa....
Itu murid apa?

Peristiwa yang aku tuliskan tentang kebencian siswa terhadap guru itu memang belum separah menghilangkan nyawa. Hanya dituangkan lewat sikap tak hormat... Tidak menyapa guru yang dibenci ketika bertemu bahkan duduk berdekatan, mencemberuti, bahkan ketika guru ada di antara mereka dianggap tidak ada.
Ini saja rasanya sudah tak pantas dilakukan seorang murid ke gurunya. Biar bagaimanapun guru itu orangtua mereka di sekolah setidaknya usianya lebih tua.

Yang bikin sedih.... Untuk kasus seperti ini masih ada guru yang anggap ini hal biasa...
"Maklum aja Miss.... Anak zaman now... Beda zaman dengan kita...."

Aku tak sependapat....karena norma agama itu berlaku meski sampai akhir zaman.
Dengan agama kita tanamkan nilai-nilai kebaikan. Agama membimbing kita untuk berlaku baik dan mencegah kita dari berlaku buruk.

Sekarang lihatlah apa yang terjadi???
Haruskah kita biarkan dan masih mampu berkata... Mereka kan beda zaman dengan kita....
Untuk kemajuan teknologi dan pola hidup mungkin iya... Tapi untuk moral mendasar (seperti hormati yang tua sayangi yang muda) itu harusnya tetap sama.