Jihad Politik Pembangunan

Jihad Politik Pembangunan

Jihad Politik Pembangunan

Oleh Dr Warjio

Tentu banyak yang tidak menerima pernyataan saya bahwa PKS adalah partai politik di Indonesia yang telah melakukan Jihad Politik Pembangunan di Indonesia

Dalam konteks analisis kegagalan model-model pembangunan yang telah dilaksanakan di berbagai negara, salah satu kegagalan itu terletak pada penggunaan ideologinya seperti kapitalisme, liberalisme dan sosialisme. Ideologi-ideologi pembangunan itu telah menyebabkan banyak negara yang pada awalnya diagungkan dengan ideologi tersebut, akhirnya ambruk atau mengalami krisis. Sebut sajalah seperti Amerika Serikat, Uni-Soviet ataupun Yunani dan negara-negara Eropa umumnya. Krisis pembangunan oleh sebab ideologi tersebut bukan saja telah mengakibatkan krisis ekonomi tetapi juga krisis moralitas dan berakibat pada ketidak percayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Kegagalan ideologi-ideologi pembangunan dunia seperti liberalisme, kapitalisme sebagaimana yang pernah saya sampaikan, telah memberi kesempatan kepada ideologi Islam dalam pembangunan untuk berkembang
(Waspada, 4/1/2016). Ambruknya Uni-Soviet dan komunisme telah membuka peluang bagi Islam sebagai kekuatan dominan dalam memobilisasi massa dunia muslim di saat-saat kritis, dan Dunia Ketiga masih dalam krisis. Islam dianggap menjadi pilihan karena dalam proses pembangunan kehidupan, Islam bukan saja lengkap dengan teori pembangunannya dan cara pelaksanaannya tetapi Islam juga lengkap dengan sejarah pembangunannya dan sejarah yang menjadi objek dasar dalam pembangunannya karena Islam tanpa pengenal ummah maka pembangunan umma tidak mencapai tujuannya (Shanhnon Ahmad, 1990:xxi). Tidak mengherankan kemudian, Islam sebagai ideologi pembangunan kini telah menjadi diskursus, termasuk di Indonesia.


Saya telah mencatat hanya beberapa penulis Indonesia yang mengkhususkan diri dalam analisisnya mengaitkan agama khususnya Islam dalam pembangunan Indonesia. Tahun 1989, cendekiawan Muslim Indonesia, Fuad Amsyari telah menerbitkan buku yang berjudul Islam Dalam Dimensi Pembangunan Nasional. Dalam buku ini, Fuad Amsyari mencoba mengetengahkan bagaimana Islam memberikan satu fondasi yang perlu diasaskan dalam konteks pembangunan Indonesia.


Tahun 1994, Abdurahman Wahid (Gus Dur), mencoba mengumpulkan tulisan dari berbagai pemikiran cendekiawan Indonesia mengenai padangan mereka tentang agama dalam pembangunan. Kumpulan tulisan tersebut diberi judul Moralitas Pembangunan: Persfektif Agama-Agama di Indonesia. Satu analisis yang dangkal mengenai Islam dan pembangunan coba disuguhkan oleh Bustanuddin Agus (2007). Melalui pendekatan sosiologis, lewat bukunya yang berjudul Islam dan Pembangunan, Bustanudin mencoba dengan analisis yang sedikit sekali bagaimana Islam perlu dikedepankan dalam pembangunan Indonesia. Setahun kemudian (2008), terbit buku dengan judul yang sama, Islam dan Pembangunan yang ditulis oleh Lainatus Sifah yang menyuguhkan konsep dasar pembangunan dalam perspektif Islam. Sayangnya buku ini juga sangat kurang penjelasannya mengenai perspektif Islam dalam pembangunan. Buku ini juga tidak menyinggung langsung Islam dalam konteks pembangunan di Indonesia



Jihad Pembangunan PKS.
Jika kita maknai jihad sebagai amal kebaikan yang Allah syariatkan dan menjadi kokoh kemuliaan umat Islam, dalam konteks peran partai politik kontemporer di Indonesia, maka Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah
melakukan Jihad Politik Pembangunan. Mengapa? Menjelang Pemilu 2009 PKS telah mengeluarkan satu buku yang berjudul Platform Kebijakan Pembangunan Partai Keadilan Sejahtera: Untuk Indonesia Yang Adil,
Sejahtera Dan Bermartabat (2007). Buku yang berisi mengenai pandangan dan strategi pembangunan ini memiliki 383 halaman. Satu tahun kemudian (2008), PKS juga mengeluarkan satu buku dengan tajuk Memperjuangkan Masyarakat Madani: Falsafah Dasar Perjuangan dan Platform Kebijakan Pembangunan PKS. Buku ini merupakan revisi dari buku sebelumnya. Sebagai buku revisi, isinya pun lebih banyak dan mengandung 643 halaman. Kehadiran kedua buku politik pembangunan itu semakin menegaskan PKS sebagai partai modern, inovatif, menarik dan produktif (Komarudin, 2004:68)


Bagi PKS, kedua buku tersebut merupakan uraian mengenai Falsafah Dasar Perjuangan. Buku tersebut juga adalah dokument yang merefleksikan visi, misi dan strategi, program dan sikap PKS ke atas berbagai persoalan bangsa Indonesia, dalam upaya memperjuangkan masyarakat Madani. Dengan demikian, buku ini menjadi penggerak dan motivasi utama kegiatan PKS dan akan menjadikan modal dakwah PKS di semua bidang kehidupan sehingga dapat bermanfaat bagi PKS, pendokong dan masyarakat luas. Buku PKS ini bagi saya menjadi oase, di tengah ”kegersangan gurun” pemikiran pembangunan Indonesia yang banyak di dominasi pemikiran Barat.


Sebagaimana disebutkan Ketua Majelis Syura PKS, KH. Hilmi Aminuddin, buku Platform Pembangunan PKS merupakan implikasi nilai-nilai yang membuat PKS meraih kemenangan, sebuah konsep, sebuah sistem, pasukan kemenangan dan tujuan (MPP PKS, 2008). Sedangkan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PKS, H. Suharna Supranata menjelaskan bahwa buku Platform Pembangunan PKS merupakan pemikiran mendasar (al fikru al-asasi) berupa kumpulan konsep bersistem yang menjadi asas pandangan yang memberikan arah dan tujuan untuk kelestarian kehidupan yang meliputi akidah dan penyelesaian persoalan manusia (MPP PKS, 2008).


Buku Platform Pembangunan tersebut ingin menegaskan kembali karakteristik PKS sebagai Partai Politik Dakwah yang bukan bekerja lima tahun sekali dan hanya untuk meraih kekuasaan (Struggle for power) secara struktural. Ia juga sebagai sebuah partai yang melakukan kerja-kerja secara berterusan dalam pembangunan umat dan peradaban.


Dengan demikian, buku Platform Pembangunan PKS adalah merupakan bentuk komunikasi politikyang dilakukan oleh PKS kepada orang ramai sebagai bagian dari sosialisasi idea PKS. PKS ingin mendapatkan image politik yang baik dari masyarakat. Sebab imej politik yang baik akan memberikan kesan yang positif masyarakat (pemilih) sehingga masyarakat dapat memberikan suaranya (Firmanzah, 2007:231). Buku tersebut telah mendapat respons cukup positif dari berbagai tingkatan masyarakat. Menurut pakar hukum, Prof Dr Jimly Asshiddiqi, SH kedua buku yang dikeluarkan PKS itu sangat komprehensif. Ia juga baru pertama di Indonesia. Ia dapat menjadi contoh baik bagi praktik perpolitikan kebangsaan (MPP PKS,2007). Menteri Keuangan Indonesia masa itu, Dr Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa sangat mengagumi sistem penulisan buku itu. Bahkan di tengah kesibukannya sebagai seorang menteri, buku tersebut menjadi bacaan selama kunjungan Beliau di Amerika Serikat. Beliau juga memberi nilai 100 untuk buku tersebut (MPP PKS 2007).


Berdasarkan kenyataan itu, kehadiran buku Platform Pembangunan PKS itu sangat strategis. Pertama, sebagai instrumen komunikasi kepada massa dan pendukung PKS sekaligus sebagai alat untuk merespon dan menyesuaikan perjuangan PKS. Sebab paltform itu mencermikan karakteristik, isi hati dan pemikiran PKS dalam mengurus persoalan pembangunan dan jawaban atas persoalan dan apa yang akan dikerjakan. Kedua, sasaran yang bersifat internal PKS sebagai Partai Dakwah sebab ia mencerminkan cara pandang Partai Dakwah atas negara, pengurusan negara dan pembangunan. Dengan demikian buku Platform Pembangunan PKS merupakan sekumpulan nilai, harapan dan pencapaian konseptual PKS sebagai Partai Dakwah dalam menjawab persoalan publik.

Dalam kaitan ini Ketua Majelis Syura PKS, KH. Hilmi Aminuddin (MPP PKS, 2007:iv) menjelaskan bahwa Buku Platform (Pembangunan) adalah hasil terus tumbuhnya hajm fikri kita, dan buah dari upya menghidupkan
potensi pemikiran kita (ihya thokoh fikriyah). Melalui iqro dan interaksi dengan Alquran dan sunnah; dengan ayat-ayat kauniyah, maupun mengamati pertembungan peradaban yang terus menerus antara antara kebudayaan berasas kebenaran dan kebudayaan berasas kebatilan; dari hasil pengamatan fenomena sosial-masyarakat-kemanusiaan yang terhampar; dari hasil bacaan buku-buku pemikiran ulama yang saleh, maka tumbuh dan berkembang hajm fikri kita. Karenanya, jika kita mampu membangun dan memperbaharui potensi pemikiran dan idealita kita ini, agar bukan hanya kokoh, tetapi juga berkembang maka kita sanggup menghadapi cabaran, memberikan solusi dan harapan. Bukan hanya harapan kepada jamaah dan umat Islam, tetapi juga kepada bangsa dan negara dan kemanusiaan. Maka Islam akan muncul menjadi payung yang menanungi manusia.


Itulah kepentingan Platform Pembangunan PKS dalam konteks partai dakwah. Dalam platform tersebut, PKS ingin menegaskan karakter pembangunan yang diyakininya untuk mengatasi tantangan pembangunan kebangsaan selama ini yaitu prinsip integral, universal dan partaisipasi total. Prinsif integral bermaksud pembangunan di satu sektor tidak dapat dipisahkan dari sektor lainnya.

Penutup
Tentu banyak yang tidak menerima pernyataan saya bahwa PKS adalah partai politik di Indonesia yang telah melakukan Jihad Politik Pembangunan di Indonesia. Kenyataannya, pascareformasi—sepanjang penelitian saya tidak satupun partai Islam di Indonesia, kecuali PKS yang memiliki Buku Platform Pembangunan Indonesia dengan mendasarkan pada pandangan Islam, terlepas dari segala kekurangnnya. Namun, secara subyektif saya katakan bahwa kehadiran buku tersebut menunjukkan kemampuan PKS dalam mengejawantahkan Jihad Politik Pembangunan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, betapapun akhirnya PKS bukan sebagai pemenang Pemilu 2009. Kini walaupun usaha Jihad Politik Pembangunan PKS ini telah menjadi sejarah, saya yakin ia akan diteruskan oleh individu atau kelompok yang komitmen untuk memperjuangkan Islam dalam pembangunan. Wallahualam.

*Penulis adalah Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik (MAP)
Pascasarjana UMA.

Tulisan di atas dimuat Harian Waspada Medan, edisi khusus Ulang Tahun ke 69, 11 Januari 2016.

(www.waspadamedan.com)