Jumat Selandia Baru Pasca Tragedi Brutal

Jumat Selandia Baru Pasca Tragedi Brutal

Jumat Selandia Baru Pasca Tragedi Brutal


Umat muslim melaksanakan salat Jumat di Hagley Park, Kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (22/3). Ibadah itu digelar satu minggu selepas serangan mengerikan terhadap dua masjid di kota Christchurch yang menewaskan 50 orang. (AP/Mark Baker)/Liputan6.com

Perdana Menteri Selandia Baru, mengenakan gaun dan hijab hitam, Jacinda Ardern, saat menghadiri salat Jumat di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, Jumat (22/3). Ini merupakan salat Jumat pertama pascapenyerangan brutal di dua masjid Kota Christchurch yang menewaskan 50 orang. Merdeka.com


Ribuan orang berkumpul di Hagley Park, Christchurch, pada Jumat 22 Maret untuk mendengarkan syahdunya kumandang azan pada tengah hari, yang diikuti oleh sesi mengheningkan cipta selama dua menit setelahnya.

Liputan6.com melaporkan dan dikutip inibabad pukul 14.10wib Jumat (22/3).

Kumandang azan tersebut juga disiarkan secara langsung oleh radio dan televsiSelandia Baru, sebagai upaya mengenang seluruh korban dalam tragedi penembakan yang menyasar Masjid Al Noor dan Lindwood City Mosque --keduanya berlokasi di Christchurch-- pada 15 Maret lalu.

Berkumpulnya massa di Hagley Park merupakan buntut dari imbauan Perdana Menteri Jacinda Ardern untuk menyiarkan langsung azan dan agenda menghening cipta, tidak hanya diSelandia Baru,namun juga pada tingkat global, demikian sebagaimana dikutip dariAl Jazeerapada Jumat (22/3/2019).

PM Ardern hadir di lokasi salat Jumat yang berjarak sekitar 500 meter dari Masjid Al Noor, mengutip sabda Nabi Muhammad SAW dalam pidato singkatnya.

"Ketika ada bagian tubuh yang menderita, seluruh tubuh terasa sakit," kata Ardern, mengenakan jilbab hitam. "Selandia Baru berduka bersama Anda, kita adalah satu."

Sementara itu, Imam Gamal Fouda, pemimpin doa di masjid Al Noor yang hadir selama serangan pekan lalu, mengatakan kepada pelayat bahwa ia "melihat kebencian dan kemarahan di mata teroris".

"Hari ini, dari tempat yang sama, saya melihat keluar dan saya melihat cinta dan kasih sayang di mata ribuan sesama warga Selandia Baru, serta dari manusia di seluruh dunia," kata Fouda.

"Kami telah menunjukkan bahwa Selandia Baru tidak bisa dihancurkan, dan dunia dapat melihat dalam diri kami sebuah contoh cinta dan persatuan. Kami patah hati, tetapi kami tidak hancur," lanjutnya.

Bersamaan dengannya, dua masjid yang menjadi sasaran penembakan pada 15 Maret, Masjid Al Noor dan Linwood City Mosque, batal kembali dibuka tepat waktu untuk salat Jumat.

Polisi dan kontraktorSelandia Baruberharap untuk menyelesaikan investigasi TKP dan mengembalikan masjid Al Noor dan Linwood pada waktunya untuk ibadah umat muslim.*Liputan6.com