Kegelisahan Bung Karno Di Suatu Ramadhan

Kegelisahan Bung Karno Di Suatu Ramadhan

Kegelisahan Bung Karno Di Suatu Ramadhan

Kegelisahan Bung Karno Di Suatu Ramadhan

Bahkan sebelum Ramadhan bergulir sudah ada kelompok masyarakat mempersiapkan acara halal bi halal yang lazim dilaksanakan bulan Syawal.

Katakanlah DPP Kerukunan Keluarga Besar Kisaran (KKK) yang berpusat di Jakarta memiliki DPW di Banda Aceh, Medan, Pekan Baru, Batam, Palembang, Jambi dan Jabodetabek.

KKK adalah organisasi kekerabatan yang menghimpun para perantau asal Kisaran di Jakarta dan akhirnya berkembang di daerah lainnya. Kisaran merupakan ibukota Kabupaten Asahan dan tercatat pernah sebagai pusat administratif Wilayah IV Propinsi Sumatera Utara terdiri dari Asahan, Tanjung Balai, Batubara (dahulu berada dalam satu kabupaten yang Asahan), dan Labuhan Batu Raya.

DPP KKK bulan lalu sudah menetapkan Panitia Nasional Halal bi Halal KKK yang direncanakan di Kisaran 20 Juni 2018. Ditindaklanjuti Panitia Nasional ini membentuk Tim Kerja di Kisaran bahkan sudah menjalankan pra event seperti lomba adzan, baca surah pendek, cipta puisi dan penataran bilal mayit.

Inilah gambaran betapa pentingnya halal bi halal. Apa rupanya halal bi halal ini?

Ternyata kegiatan ini hanya ada di Indonesia dan tak satu baris pun ada tercantum dalam Al Quran dan Hadits terkait lebaran atau hari raya ied.

Dan ternyata pula...halal bi halal hadir dari situasi tidak bersaudara yang diciptakan para politisi di awal kemerdekaan Indonesia. Saling menyalahkan, hujat, teror, agitasi, provokasi.

Hal ini mengusik bathin salah satu pendiri Nahdlatul Ulama yakni KH Wahab Chasbullah. Goodnewsfromindonesia menulis: Penyebutan istilah ini (halal bi halal-red) dilatarbelakangi atas keresahan Sang Kiai terhadap kondisi bangsa Indonesia yang saat itu baru-baru saja merdeka, namun para elit politiknya justru sedang berseteru. Sekira tahun 1948, Indonesia tengah mengalami pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TII dan PKI di Madiun. Para petinggi negara kala itu pun sedang tidak akur.

Lantas, menurut riwayat dari Kiai Masdar, pada pertengahan bulan Ramadan Presiden Soekarno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara. Ia menyampaikan rasa gelisahnya mengenai situasi politik yang sedang tidak sehat tersebut dan meminta masukan dari Kiai Wahab."

Lengkapnya klik https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/07/01/istilah-halal-bihalal-ternyata-hanya-ada-di-indonesia-ini-maknanya

Melihat situasi dan kondisi moral bangsa Indonesia saat ini, mumpung bulan Ramadhan yang kelak diakhiri bulan Syawal, alangkah idealnya memberi muatan lebih terhadap kegiatan halal bi halal yang pasti kelak akan dilaksanakan berbagai komponen bangsa dari kalangan muslim.

Sesama sebangsa se tanah air tidak elok saling hujat dan saling menyalahkan. Kenegarawanan Presiden Soekarno dan KH Wahab Chasbullah yang gelisah dan resah dalam merespon kondisi di awal kemerdekaan sebaiknya diteladani oleh siapapun sebagai bagian dari bangsa Indonesia tercinta.

Inshaa Allah. *nurkarim nehePersiapan halal bi halal KKK: Menyatukan Jarak Menjalin Maaf Sesama Saudara. Begitu indahnya persaudaraan mampu menyatukan jarak apapun.