Mendidik Anak dan Remaja (1)

Mendidik Anak dan Remaja (1)

Mendidik Anak dan Remaja (1)

MENDIDIK ANAK REMAJA (1)


Basic yang perlu kita pahami ketika kita membicarakan pendidikan anak remaja adalah :
Pemahaman kita tentang remaja
Sebagai guru kita harus menyamakan pemahaman (mind set) dulu terkait dengan anak-anak usia remaja yang kita kenal.

Kalau kita bicara tentang bagaimana sihh watak dasar manusia?
Dalam QS Ar Rum : 30, Allah tegaskan bahwa ternyata Allah menciptakan manusia dalam kondisi fitrah. Artinya pada desain awal penciptaan manusia, Allah ciptakan dalam kondisi fitrah.

Fitrah itu kalau diartikan bersih, itu sebenarnya, bukan seperti kertas kosong yang tidak tau apa-apa dan nggak ada apa-apanya.

Setiap anak dilahirkan fitrah kemudian orang tuanya lah yang berperan menjadikannya nashoro, yahudi.... ‘Fitrah’ itu ternyata artinya, dia berada di atas agama Islam.

Sejak awal diciptakan, manusia itu adalah muslim. Di alam ruh seorang manusia diminta bersaksi untuk menegskan bahwa,”Allah sudah ciptakan kita dalam kondisi fitrah, di atas agama yang lurus. Di alam ruh, sebelum dilahirkan, itu ditegaskan,”Kamu bersaksi nggak...bahwa Aku adalah Robb kalian?” Dan manusia itupun bersaksi. Kemudian terlahir pun dalam kondisi fitrah.

Hal ini juga harus kita pahamkan pada anak-anak kita, agar mereka punya penilaian positif terhadap dirinya. Khususnya pada anak-anak yang mungkin karena kondisi keluarga lah atau karena kena masalah, jadi timbul penilaian negatif terhadap dirinya sendiri. Kadang kita juga menemukan ada anak yang menilai rendah dirinya sendiri. Maka pemahaman ini harus kita bawa baik kita sebagai orang tua maupun sebagai pendidik.

Jadi, ketika kita menemukan sesuatu yang menyimpang di diri anak remaja yang kita didik, misalnya, kita nggak gampang untuk mengatakan,”Ya emang anaknya begitu!”

Di sini nanti akan kita buktikan bahwa di usia-usia itu adalah usia yang paling dekat dan paling mudah menerima kebenaran.

Kalau kita tarik ke belakang, kita melihat para sahabat...mereka yang berislam pertama kali, semua berislam di usia pemuda.

Sebelumnya, kita definisikan dulu tentang pemuda. Pemuda (shabab) itu adalah dari usia baligh sampai usia 40 tahun. Saat itu yang berusia limapuluhan mungkin Abu Bakar, Utsman.

Dalam bayangan kita selama ini mungkin mereka berislam ketika usia mereka sudah tua. Ternyata tidak. Mereka berislam dalam usia pemuda. Di bawah-bawah umur para sahabat itu juga banyak, ada yang 20-an, bahkan ada yang belasan.

Ketika semua berjalan sesuai fitrahnya, tidak ada yang menyimpang dengan fitrahnya, maka justru usia pemuda (shabab) ini sangat besar peluangnya untuk mudah (mempunyai kecendrungan) menerima kebenaran.

Khalid Ahmad Syantut dalam bukunya, beliau membedakan arti remaja dan pemuda. Menurut beliau dalam bukunya, sudah waktunya kita membuang istilah murohaqoh (dlam bahasa kita disebut remaja), istilah yang dipakai Nabi adalah syabab (pemuda). Penolakan terhadap kata remaja bukan karena sekedar istilah. Tapi dari filosofi arti keduanya berbeda.

Tentang remaja, bagi yang sering googling atau cari tau tentang remaja, maka remaja itu sering diartikan dengan kecendrungan yang negatif. Remaja, adalah usia dimana seseorang itu mengalami masa menarik diri dari nilai, masa galau...

Akhirnya sebagai pendidik dan orang tua, tentu kita merasa khawatir...
”Masa’ iyaaa remaja begitu?”
“Masa’ nilai yang selama ini kita tanamkan waktu kecil kemudian di aqil baligh dia akan meninggalkan semua itu?”

Sebagai pendidik dan orang tua, timbul ketakutan yang luar biasa tentunya. Haruskah ada fase seperti itu?

Tapi ketika kita meihat arti shabab (pemuda), artinya adalah tumbuh, berkembang, baik, kuat, semua yang positif. Artinya ketika memasuki usia pemuda, berarti seorang anak itu memasuki fase yang lebih baik

Dan dalam Al Qur’an pun dikukuhkan tentang Ashabul Kahfi, mereka ini adalah para pemuda yang diikat oleh keimanan.

Ketika kita menghadapi anak-anak usia baligh, yang selama ini kita sebut memasuki usia remaja, maka sebenarnya anak-anak itu memasuki usia shabab dalam istilah Tarbiyah slamiyah. Anak-anak pada usia ini, secara fitrahnya, dia itu adalah lebih mudah, lebih leluasa untuk bisa menerima kebenaran/kebaikan. Tapi memang lingkungan pun ikut mempengaruhi kondisi mental anak-anak ini.

Dr Muhammad Uwais menyebutkan, ketika pemuda ini memasuki usia yang selama ini kita sebut ‘remaja’ dengan lingkungan yang berbeda, bisa berbeda situasinya.

Anak yang dibesarkan dalam rumah muslim, terjaga fitrahnya (dari mulai dia kecil terus terjaga), maka dia tidak akan pernah mengalami fase kenakalan remaja. Nggak mengalami masa galau, nggak mengalami masa-masa negatif yang kita lihat seperti remaja pada umumnya.

Berbeda dengan mereka yang lingkungannya itu sangat kuat pengaruh negatifnya. Ini yang membuat dia kemudian menyimpang dari fitrahnya.

Ini yang harus kita pahamkan, di diri kita juga anak-anak kita. tanamkan pada mereka bahwa mereka terlahir baik, mereka memasuki usia yang mudah untuk menerima kebaikan.

Selama ini mungkin di mind set kita pun memaklumkan hal yang tak harusnya dipermaklumkan. Seolah-olah masa remaja itu adalah wajar terjadi galau, adalah wajar ada pemberontakan di usia remaja, dan banyak hal negatif lain yang kita maklumkan. Kita harus merubah mind set itu.

Ketika kita menemukan anak seusia mereka yang menilai dirinya kecil, rendah, negatif, tugas kita memotivasi kembali bahwa,”Kamu nggak kaya’ gitu. By design kamu punya kemampuan yang luar biasa.”

Bahkan secara ilmiah disebutkan, pemuda itu adalah Golden Age yang kedua.

Fondasi utama adalah aqidah.
Ini harus ada dalam mendidik anak usia remaja.

Yang harus menjadi tema besar sebuah pendidikan terhadap remaja adalah bagaimana kita memperhatikan masalah keimanan mereka.

Kalau kita bicara tentang keimanan, berarti secara keseluruhan. Ini menyangkut bagaimana hubungan mereka pada Allah sampai pada akhirnya adalah bagaimana mereka mengamalkan adab, karakter pribadi yang baik khususnya untuk diri mereka sendiri dan bagaimana nanti mereka bermuamalah dengan orang lain. Semua harus dalam bingkai keimanan.


Kenapa keimanan menjadi penting?
Karena iman itu adalah afdholun amal.
Mau nggak mau, meskipun sudah di usia SMA, kita harus masuk di konsep mengenal Allah dalam kurikulum (misalnya tentang akhlak).

Ini basic banget (keimanan itu basic banget), yang bisa jadi dengan memasukkan tantang mengenal Allah dalam kurikulum kita, akan terdengar beberapa orang menilai,”Kog masih juga sih diajarin yang beginian? Bukannya seharusnya sudah melebihi itu? Kan waktu SD, SMP, udah pasti mereka sudah mempelajari itu”.

Masalah keimanan ini nggak bisa dilepaskan, karena sebaik-baik amal yang utama adalah keimanan. Iman adalah fondasi.

Keimanan adalah Golden Ticket untuk bisa selamat di hari kiamat.
Kita akan menemukan banyak hadits, banyak riwayat terkait bagaimana seseorang itu walaupun dosanya luar biasa besar asalkan dia mempunyai keimanan, itu akan menyelamatkan dia dari api neraka.
Disebutkan bahwa penduduk surga aj, itu nanti tingkatannya berbeda-beda juga berdasarkan keimanan

Dan masih banyak lagi poin-poin terkait kenapa iman menjadi sangat penting.

Catatan Diana Bakti Siregar
Villa Mutiara Lido
Senin, 9 September 2019