Presiden Jokowi Menguji

Presiden Jokowi Menguji

Presiden Jokowi Menguji

Presiden Jokowi Menguji

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Mudik

1.Pendapat Ahli.

Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat, ahli bahasa dari Universitas Indonesia sependapat dengan Presiden Jokowi soal Pulang Kampung dan Mudik.

Demikian detikcom melansir di:
https://m.detik.com/news/berita/d-4988818/beda-mudik-dan-pulang-kampung-menurut-ahli-bahasa-ui

Disebutkan dalam berita itu, Guru Besar Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia ini berpendapat mudik dan pulang kampung memang berbeda arti. Bukan sama arti seperti ditulis di KBBI.

Arti pertama mudik yakni berlayar atau pergi ke udik atau hulu. Arti kedua mudik itu pulang ke kampung halaman. Namun ternyata mudik yang diartikan dengan pulang ke kampung merupakan bahasa percakapan.

"Memang beda arti mudik dengan pulang kampung. Biasanya pembaca kurang cermat. Di KBBI tertulis v cak. Cak itu berarti percakapan," ujar Prof Rahayu kepada detikcom, Kamis (23/4/2020).

Menurut Prof Rahayu, bahasa percakapan anti kaidah. Sebab arti pulang kampung beda dengan mudik namun kerap dipakai dalam bahasa percakapan.

Mudik artinya pergi ke udik atau hulu. Sementara arti pulang kampung yakni kembali ke kampung halaman.

Dalam hal ini, lanjut Prof Rahayu, Presiden Jokowi membatasi penggunaan kata mudik dalam konteks Idul Fitri. Sedangkan pulang kampung tidak berkaitan dengan Idul Fitri.

Dasar penetapan Larangan Mudik

2.Diplomasi.

Tidak hanya awam, hampir semua kalangan jika terlibat percakapan dalam Bahasa Indonesia selalu saja memaklumi penggunaan kata yang rancu, berlebihan dan non efisien.

Dapat dibayangkan andai Presiden Jokowi menyebutkan "naik ke atas" sebagaimana lazimnya percakapan dalam Bahasa Indonesia, pasti akan viral; berbeda efeknya saat publik melakukan hal yang sama dalam keseharian.

Dalam acara Mata Najwa Rabu malam 22 April 2020 yang berjudul "Jokowi Diuji Pandemi", Presiden menjawab Najwa Shihab soal mudik dan pulang kampung spontan menyentakkan kemapanan publik dalam penggunaan istilah. Dapat ditebak: pasti viral.

Najwa memaparkan angka dari Kemenhub ada 900.000 lebih yang sudah mudik ke berbagai daerah. "Itu pulang kampung,"jawab Presiden.

Najwa mengejar "bukankah pulang kampung sama dengan mudik?", Presiden taktis menguji publik lewat Najwa bahwa itu beda.

Di sinilah esensinya. Mudik dan atau Pulang Kampung harus lebih jadi perhatian serius ke depan dalam keseriusan mencegah penyebaran Covid-19. Presiden menguji publik akan penguasaan data serta penegasan bahwa memahami persoalan bangsa; dalam hal ini justru persoalan ummat manusia, tidak bisa sepenggal penggal.

Presiden tak sampai 1x24 jam sebelum Mata Najwa; dalam Rapat Kabinet Terbatas Selasa 21 April 2020 mengumumkan larangan mudik bagi semua, larangan sebelumnya hanya bagi ASN, TNI, Polri dan pegawai BUMN.

Presiden menyampaikan angka dari Kemenhub dan hasil survey bahwa 68 persen tak ingin mudik, 7 persen sudah mudik, 24 persen bersikeras akan mudik. Oleh karena angka yang cukup besar "akan mudik" inilah Presiden memutuskan membuat larangan mudik bagi semua, tak hanya ASN,TNI,Polri dan pegawai BUMN saja yang mungkin dipatok dengan angka 1 persen.

Makna lainnya, justru karena ada angka 7 persen yang sudah mudik serta 24 persen akan mudik inilah ditetapkan larangan mudik bagi semua. Dan Najwa Shihab menguji ini di "Jokowi Diuji Pandemi".

Diplomasi Jokowi ini spontan saja menggiring banyak orang "belajar ulang mendadak" membuka kamus, wikipedia, dan referensi formal lainnya. Awak media formal pun mendatangi ahli Bahasa Indonesia.

Tak sedikit pula yang mendadak jadi "Ahli Bahasa" di medsos dan dalam perjumpaan warga di tengah physical distancing ini.

Sebagai Presiden sudah pasti Jokowi tidak bermain main dalam soal Pandemi yang menghantui ummat manusia saat ini. Barang tentu jauh berbeda dengan yang bukan Presiden yang mempergunjingkan dan memain mainkan hal ini di media sosial serta yang memperbincangkannya tanpa masker.

Presiden Jokowi Menguji: pemahaman terhadap essensi Mudik dan Pulang Kampung, tingkat kesadaran bahwa Pandemi ini sedang mengajari manusia hidup bersih, sehat, disiplin dan teratur.

Pandemi mengingatkan bahwa kematian itu ada dengan mudah, bahwa sehebat apapun usaha manusia tetap ada yang lebih Maha Berkuasa memutuskannya.

Stay at Home dipaksa Pandemi ini seolah mengajarkan manusia untuk mengingat manusia akan jalan pulang. Rumah, titik dasar aktifitas manusia; yang seharusnya jadi terminal mengatur gerak hidup sekaligus persiapan ke akhirat.

Pandemi Covid-19 seolah memaksa manusia menyadari bahwa Ukhuwah atau Silaturahmi bukan soal pertemuan fisik saja melainkan hati dan akal. Silaturahmi bukan soal basa basi dan seremoni.

Pandemi ini juga mengingatkan agar manusia saling menyayangi, yang kaya membantu materi kepada yang miskin, sebaliknya yang miskin menjaga si kaya dengan hati dan tenaganya.

Yang berpangkat dengan tidak berpangkat dan seterusnya ternyata sama di hadapan Covid-19 apalagi di hadapan Sang Maha Pencipta.

Mudik dan Pulang Kampung: Kado terindah dan teramat mahal dari Presiden dalam menyambut Ramadhan.

Alhamdulillah.