Rintangan Berpikir Kritis

Rintangan Berpikir Kritis

Rintangan Berpikir Kritis




Apakah manusia hidup tanpa berpikir? Tentu saja tidak. Pada dasarnya manusia diciptakan dibekali akal untuk berpikir. Dalam surah Al-Israa’ ayat 70, Allah SWT berfirman yang artinya :
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’ : 70).

Dari ayat tersebut dapat dikatakan bahwa akal merupakan kelebihan yang diberikan Allah SWT kepada manusia dan sekaligus menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Karena itu, Allah SWT menganjurkan manusia agar bersedia menggunakan akalnya untuk berpikir. Tidak sedikit ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menunjukkan anjuran Allah kepada manusia agar menggunakan akalnya untuk hal-hal yang berguna. Salah satunya adalah surat An-Nahl ayat 12 yang artinya :

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS. An-Nahl : 12).

Adapun akal pikiran sangat erat kaitannya dengan logika. Secara etimologis, logika berasal dari kata Yunani logike (kata sifat) dan kata bendanya adalah logos yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.

Atau yang lebih sederhana perkataan sebagai manifestasi pikiran manusia. Luce mengatakan bahwa logos berarti wacana (discourse),maka dengan demikian pikiran dengan kata mempunyai hubungan erat,artinya bahwa bahasa mempunyai kaitan erat dengan pikiran.Logika juga berkaitan dengan kemampuan manusia dalam bernalar. (Muhammad Rakhmat,pengantar logika dasar hlm:1)
Mundiri menjelaskan bahwa pikiran merupakan perkataan dan logika merupakan patokan,hukum atau rumus berpikir. Logika bertujuan untuk menilai dan menyaring pemikiran dengan cara serius dan terpelajar serta mendapatkan kebenaran terlepas dari segala kepentingan dan keinginan seseorang. (Ainur Rahman Hidayat,filsafat berpikir hlm:7)

Manusia yang menggunakan akal nya dalam berpikir tentu saja pernah mengalami kesulitan untuk selalu berpikir kepada hal-hal baik. Kesulitan tersebut dapat mengahambat manusia dalam berpikir kritis. Adapun beberapa rintangan yang menghambat manusia dalam berpikir kritis.

Salah satunya ialah menurut Francis Bacon (1561-1626). Francis bacon ialah seorang tokoh penting dan berjasa dalam memasyhurkan metode induktif modern dan mengembangkan sistematisasi logis prosedur ilmiah.Salah satu bagian filsafat Bacon yang sering dikutip adalah perjuangan nya melawan dan menghancurkan ‘berhala’(idols).

 Yang dimaksud berhala ialah kebiasaan buruk yang menghantui akal pikiran manusia hingga membuat manusia tidak dapat berpikir dengan kritis atau bahkan malah membuat manusia jatuh ke dalam kesesatan berpikir. 

Ia berpendapat bahwa ada 4 berhala (idols) yang dapat menghambat manusia dalam berpikir kritis yaitu :
1) Berhala suku (idols of the tribe) yakni mengharapkan fenomena alam ini lebih teratur daripada yang kita temukan.
2) Berhala gua (idols of the cave) berupa prasangka pribadi yang mengaburkan pandangan peneliti.
3) Berhala pasar (idols of the market place)yaitu kesempatan awam yang mengekang kata,istilah dan konsep yang bisa bebas berkembang.
4) Berhala teater(idols of the theatre) yang terkait dengan sistem berpikir baku yang diterima begitu saja.(Nur A fadhil lubis,pengantar filsafat umum hlm:107-109)

Kemudian ada beberapa hambatan-hambatan dalam berpikir kritis lainnya yaitu seperti,kurangnya informasi yang memadai, kemampuan membaca yang buruk, prasangka, tahayul, egosentrisme (pemikiran yang memusat ke diri sendiri), sosiosentrisme (pemikiran yang memusat ke kelompok), tekanan kelompok, konformisme, provinsialisme, pikiran sempit, pikiran tertutup, tidak percaya pada nalar, berpikiran relativistic, sterotip, asumsi-asumsi yang tak terbukti, pengkambinghitaman (scapegoating), rasionalisasi, penyangkalan, wishful thinking, berpikir jangka pendek, persepsi selektif, daya ingat selektif, emosi yang menggebu-gebu, penipuan-diri (self-deception),menyelamatkan muka(face-saving),takut akan perubahan. (gagasmakna.wordpress.com)

Setelah mengetahui hambatan-hambatan dalam berpikir kritis tersebut,penulis berharap kita sebagai manusia yang telah dibekali akal oleh Allah SWT hendaklah kita mensyukurinya dengan cara menggunakan akal kita untuk berpikir pada hal-hal yang baik. Dan sebisa mungkin untuk menghindari beberapa hambatan-hambatan dalam berpikir kritis yang telah penulis paparkan. Ingatlah sebuah hadits :
“Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.” (HR.Muslim)

Penulis:
Vera Rahayu
Nurul Miftahul Jannah
Riski Ananda 
Mahasiswa IAIDU ASAHAN