Santri Ar Raudatul Hasanah Latihan Jurnalistik

Santri Ar Raudatul Hasanah Latihan Jurnalistik

Santri Ar Raudatul Hasanah Latihan Jurnalistik

Dua santri sedang praktik wawancara pada Pelatihan Jurnalistik di Pesantren Ar Raudlatul Hasanah Medan.foto waspada.id




Pondok Pesantren Ar Raudlatul Hasanah Medan membekali ratusan santri/santriwati kelas lima dengan ilmu jurnalistik dan pengenalan tentang dunia kewartawanan, Minggu (20/9).

Hadir sebagai pemberi materi, Wartawan Harian Waspada Biro Kisaran, Rasudin Sihotang dan Sapriadi. Kedua insan pers ini merupakan anggota PWI Kab Ashan dan telah mengantongi sertifikat uji kompetensi wartawan (UKW) Muda dari Dewan Pers.

Di hadapan ratusan santri dan santriwati, pemateri pertama, Rasudin Sihotang memperkenalkan jurnalistik
sebagai salah satu ilmu terapan yang mempelajari keterampilan seseorang
dalam mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi yg
mengandung nilai berita, serta menyajikannya kepada
khalayak melalui media informasi dan
komunikasi. Karya jurnalistik katanya merupakan uraian fakta atau pendapat yang mengandung
nilai berita dan penjelasan masalah
hangat yang disajikan kepada
khalayak melalui media.

"Menulis berita harus ringkas padat tidak bertele-tele," ucap Rasudin yang juga alumni ke 12 pondok pesantren terbesar di Sumatera Utara itu.

Sementara, Sapriadi menjelaskan teknik penulisan berita dengan rumus 5w + 1 h atau what (apa), where (di mana), who (siapa), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana). Sapri menegaskan, keenam unsur tersebut harus ada dalam berita sehingga para pembaca dan khalayak dapat menerima informasi yang akurat dan benar.

Dalam penulisan berita ucapnya, penulis hendaknya menerapkan struktur piramida terbalik dengan lebih mendahulukan informasi penting di alinea awal (lead) dan kurang penting di akhir alinea. Tujuannya untuk menghindari berita yang bertele-tele dan juga efisiensi ruang di media cetak.

Sapri menegaskan, wartawan dalam menyajikan berita harus berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dari kecepatan serta tidak mencampur adukkan fakta dan opini sendiri. Opini merupakan pendapat penulis, sedangkan fakta adalah kejadian yang sebenarnya.

Para santri dan santriwati kelas lima atau setingkat kelas dua SMA itu sangat antusias mengikuti pelatihan satu hari dengan tiga termin, Pengenalan Jurnalistik, Reportase dan Wawancara, serta Teknik Penulisan Berita. Mereka juga aktif bertanya, menjawab, mengikuti kuis, serta praktik membuat berita.

Sementara Kepala Pengasuhan Putra, Ust H Andi Wahyudi LC MA didampingi Ust H Habibie Sembiring Meliala LC MPdI dan Ust Iqbal Syafi'i menjelaskan pelatihan jurnalistik rutin setiap tahun sebagai pelajaran wajib di Ponpes Ar Raudlatul Hasanah. Sebagai praktiknya, Ponpes juga memiliki media lokal sendiri bernama Raudlah Post yang diawaki oleh para santri dan santriwati.
ARTIKEL ASLI



Pemateri Rasudin Sihotang dan Sapriadi diabadikan bersama Ust Iqbal Syafi'i dan santri Ponpes Ar Raudlatul Hasanah Medan usai mengikuti Pelatihan Jurnalistik.