Sepakbola Urat Nadi Perekonomian

Sepakbola Urat Nadi Perekonomian

Sepakbola Urat Nadi Perekonomian

Sepakbola Urat Nadi Perekonomian


Ternyata rivalitas di lapangan hijau antara Barcelona (FCB) dengan Real Madrid berlanjut nyata dalam sendi keseharian.

Melihat tongkrongan Cambrils Park Resort sekitar sepuluh hektar tidak hanya sekedar mendapatkan hasil dari kegiatan sepakbola akan tetapi ianya bersendikan sepakbola, katakanlah sendi perseteruan FCB dengan Real Madrid bahkan dengan Atletico Madrid.

Pegawai Cambrils akan angkat bahu dan geleng kepala sambil berucap tegas: "No...no..no!!!" jika ada yang bertanya apakah ada menjual atribut RM atau AM.

Cambrils Park Resort di Salou Barcelona adalah hunian berkonsep wisata, banyak dikunjungi wisatawan Eropa, Afrika, Timur Tengah, Amerika dan Asia termasuk Australia.

Tidak ada atribut atau embel embel tentang FCB di resort ini. Akan tetapi hampir seluruh fans FCB di dunia tahu jika Cambrils Park Resort adalah markas FCB jika dalam masa latihan.

Cambrils menyiapkan cottage khas Spanyol masa lalu, kamar uptodate, fasilitas kolam renang berkesan tapi pantai, track jogging dan berjalan, fitness, spa sauna, sampai sarana permainan anak anak.

Messi dkk biasa berolahraga rekreatif di sini; basket, futsal, tenis meja, mini golf, sepeda, voli dan lainnya sampai Billiard. Ada dua resto besar.

Jarak ke Stadion Salou sekitar satu kilometer yang rutinitasnya adalah tempat penyelenggaraan akademi sepakbola segala lapis usia. Di lobby perkantorannya atau di samping resto stadion barulah didapati atribut FCB, daftar kesohor dunia yang pernah bergabung di FCB sampai audio visual soal FCB.

Di titik Salou ini jelas terlihat pergerakan nadi perekonomian oleh masyarakatnya. Wisatawan berkunjung kemari ya piknik tapi tetap bermuatan sepakbola tepatnya aroma FCB. Sebaliknya yang datang karena urusan sepakbola bisa menikmati fasilitas Messi dkk.

28 dan 29 Oktober pelaksanaan turnamen Barcelona Cup untuk pesepakbola anak anak dan remaja dunia mulai usia 10 sampai 15 dan sepakbola wanita.

Minimal sehari sebelum dan sesudah laga tim sudah berada di Cambrils. Tim dari negara Eropa umumnya membawa para orangtua pesepakbola. Tidak ada pilihan lain untuk menginap.

Kendati demikian pihak FCB tidak bermain di kuantitas dengan membuka seluasnya tim peserta namun ada semacam rujukan atau rekomendasi yang menjamin anak anak yang datang sudah memiliki pola sepakbola minimal.

Begitu tim peserta mendarat atau muncul di Barcelona diberikan tiket gratis masuk Camp Nou yang seolah "dikeramatkan" oleh manejemen sayap FCB. Peserta leluasa meninjau museum, belanja atribut FCB, fhoto sampai makan minum.

Tidak ada spanduk atau bilboard raksasa yang menghalohalokan event kecuali di Stadion Salou. Semua berjalan bermuatan magnet sangat tebal.

Bergeser ke Real Madrid melewati Basenya Real Zaragoza dan padang Guadelajara tim peserta diangkut bus dengan seorang guide penuh agitasi.

"Saya tentu pecinta Barca tapi karena kecintaan melayani anda anda dengan senang hati akan saya dampingi ke stadion RM dan Atletico,"ujar Alex Mauri seorang muallaf Spanyol yang pernah tinggal di Jakarta tiga tahun.

Istrinya seorang Spanyol juga lama bekerja di Jakarta. Ketika berbulan madu mereka memilih Sabang yang istilah Alex "enak menyenangkan".

Tiba di Madrid subuh dengan perjalanan delapan jam. Setelah Alex bertanya apa agama dan fans club apa, dia membawa tim untuk sholat Subuh di Pusat Kebudayaan Islam Madrid.

"Ada fans Barca dan RM tak mengapa, bagi yang muslim mari sholat Subuh,"tandasnya.

Majis yang disemburkan warga tak kalah hebatnya di stadion Santiago Barnabeu. "Tak sudi kami menjual atribut Barca," tukas pedagang di sana begitu dipancing soal atribut Barca.

Seperti Camp Naou, Santiago bagaikan pusat magnet yang memanggil manggil penggemar RM datang.

Semua titik bergerak karena sepakbola. Industri raksasa ini telah menjadi nadi penting bagi perekonomian Spanyol.

Tak patut membahas prilaku dan indikasi di halaman olahraga ini. Sebaiknya kita tutup dengan pernyataan supir taxi yang mengantar ke lokasi pertunjukan Flamengo.

"Kami menghormati tamu layaknya orang tua atau keluarga, tak mengapa tamu yang datanf fans Barca atau RM. Saya harus katakan go to hell Barca dan RM karena saya mencintai atletico, dan itu juga harus anda anda hormati sebagai sikap dari keluarga anda," ucapan yang lancar, tegas dan dengan senyum optimis.

Amangoiii...!*Nurkarim Nehe.

Camp Nou di Barcelona dan Santiago Barnabeu di Madrid

Dimuat Harian Waspada Medan 30 Oktober 2017