Super Mom

Super Mom

Super Mom

Super Mom....

Makhluk ajaib yang istimewa. Ungkapan yang relatif pas untuk seorang ibu.

Setelah mengandung bayi sembilan bulandengan segala penderitaan dan kebahagian tersendiri, lalu harus berjuang melawan maut saat melahirkan kendati belakangan ini bisa ditolong dokter denganCaesar.

Merawat, mengasuh, memelihara bayi di samping kesibukan rumah tangga bahkan tak jarang juga mencari nafkah. Menuntun bayi gerak dasar, berbicara, telungkup, berdiri, berjalan dan seterusnya.

Kadang harus menangis di tengah malam sendiri tanpa tahu suaminya jika anak bermasalah. Menyimpan banyak gundah, risau, dan resah berbalut doa dalam relung bathin setiap saat dalam merekam perjalanan si anak.

Penderitaan, kesedihan, harapan,doa bersatu padu membentuk harmonisasi untuk kemudianselalu saja muncrat dalam senyum kebahagiaan seorang ibu di hadapan anak anaknya bahkan pada saat kondisi paling runyam sekalipun.

Mama, Emak, Omak, Mom, Umi,...entah apapun itu sebutan bagi seorang ibu tapi beliau lah makhluk ajaib yang istimewa; bisa cerewet atau ceriwis, pemarah dan atau penyedih, perajuk, ngomel atau merepet...tapi siapapun tak dapat menyangkal jika makhluk ini amat menyayangi anak dan keluarganya.

Berbagai sajak, puisi, prosa dan lirik lagu mengusung penderitaan dan pengabdian seorang ibu bagi kehidupan di bumi; begitu banyak menyanjung dan memuliakannya.

Makhluk yang selalu mengedepankan perasaan daripada akal akan tetapi selalu saja terbukti bahwa makhluk ini lebih jitutalenta dan prediksinya ketimbang kaum lelaki yang katanya selalu mengedepankan logika.

Naluri Ibu.
Naluri Istri.

Tidak sedikit mereka yang terkemuka di bidangnya; leader, penguasa; lelaki yang hebat, cerdas, berwibawa; namun harus menyandarkan harapan kepada istriatau kadang kepada ibunya (jika masih hidup) untuk menentukan keputusan setelah pertimbangan pertimbangan logika dilalui.

Ibu identik dengan repetan namun beliau tak pernah mengeluh.
Ibu kadang disebut pemarah akan tetapi beliau lah makhluk yang paling menyayangi sekaligus memiliki cita cita besar akan putra putrinya melebihi cita cita anak anaknya itu sendiri.
Ibu, tidak sepetik pun punya niat mengharap balas jasa dari anak anak yang dikandung dan diasuhnya sampai dewasa.

Seorang ibu hanya ingin anak anaknya selamat sentausa dunia akhirat sebab amanah yang disandangnya.

Terimakasih kepada Diana Bakti Siregar atas sumbangsih tulisan berjudul Super Mom, semoga bermanfaat bagi kehidupan dan menjadi amal Jariyah bagi penulis serta bagi kita yang menyebarluaskan kebaikan kebaikan ini.

Super Mom salah satu dari banyaknya kisah perjuangan seorang ibu....


Irfan yang kini jenial berkat perjuangannya keluar dari zona autism yang Super Needs didorong seorang Super Mom


Senin itu aku memang sangat terlambat sampai ke lokasi siswa bimbingan di daerah Ciganjur. Karena beberapa kendala.

Jadwal yang harusnya dimulai jam 17.00, aku baru nyampe jam 18.00.
Plus "break sholat" akhirnya bimbingan selesai jam 19.15.

Saat sudah bersiap untuk pulang tiba-tiba orangtua siswa menyapaku dan dimulailah obrolan exclusive dengan beliau.

Ngobrol itu sebenarnya suatu proses biasa yang terjadi dengan siapa saja...

Tapi kenapa obrolan ini aku tuliskan karena aku sore ini ngobrol bareng "Super Mom".

Dia, Ibu dari mantan siswaku di Bless yang anaknya special needs, seorang autism.

Irfan, putranya itu sekarang sudah semester 4 jurusan IT di NF Jakarta. Sudah bisa bawa motor juga mobil.
Bagi orang lain mungkin anak seusia Irfan sudah bisa bawa mobil mah biasaaa... Tapi untuk seorang autism itu luar biasa.
Ada yang lebih luar biasa lagi... Irfan sudah punya usaha sendiri... Panel Surya. Yang butuh bisa pesan (promosi).

Irfan kini punya bisnis panel surya bahkan sedang merancang kincir pembangkit listrik

Bahkan yang aku dengar sekarang udah utak-atik kincir air untuk pembangkit listrik di kebun orangtuanya di Sumedang. Next.... Katanya mau bikin kincir angin. Masih untuk pembangkit listrik juga.

Tapi apa yang kita lihat tentang Irfan yang sekarang itu tidak instant. Di balik semua itu, dia memiliki seorang "Super Mom", aku sebut begitu ya karena perjuangannya yang super.

Semoga yang aku tulis ini bisa menginspirasi ibu-ibu yang membacanya. Baik Ibu dari siswa special needs maupun siswa biasa yang normal.

Ga jarang lho aku mendengar ibu-ibu zaman now mengeluh tentang anaknya yang notabene ga sesuai dengan yang diharapkan. Padahal sebenarnya anaknya baik-baik saja.

"Aduh mba Diana.... Gimana ya... Anak saya itu kog susah untuk dapat rangking.. Nilainya sih naik tapi masih belum bisa unggul dibanding teman-temannya. Kesal saya.... "

Pernah juga aku bertemu seorang ibu yang ngomel-ngomel karena anaknya milih jurusan yang menurutnya itu jurusan yang dipilih orang-orang yang dianggap kurang cerdas.
"Masa' mba Diana ga bisa bujuk dia tuk milih jurusan yang bergengsi.... Saya ini peneliti lho mba... S 3 juga. Malu-maluin aja kalau anak saya ditanya jurusan apa....eee cuma itu yg dia pilih! "

Mungkin masih banyak ibu-ibu zaman now yang banyak mengeluh tentang anaknya yang sebenarnya secara akademik dan sosial tidak bermasalah.

Sekali lagi semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat kita semua untuk bisa bersyukur.

Mamanya Irfan ini seorang wanita karir dulunya dan meninggalkan karir demi bisa mendampingi anaknya yang mungkin bagi orang awam itu bermasalah. Special needs.

Bayangkan beliau harus menghadapi banyak rintangan pahit hanya untuk putranya yang autism itu bisa diterima di kehidupan umum.

Kalau kita mungkin ga ada kendala memasukkan anak kita ke sekolah manapun. Sementara beliau dari anaknya TK pun sudah menerima komplen pahit orang tua murid yang lain. Anak yang belum bisa kendalikan diri dan punya masalah di komunikasi itu malah sering dianggap gila.
Gimana ga pedih hati seorang Ibu yang terang-terangan mendengar orang-orang bilang,"Itu anak gila kog diterima di sini?

Belum lagi harus pontang-panting mengejar jadwal terapi dengan psikolog yang ga bisa menerima keterlambatan meski beberapa menit... Harus antar anak ke olahraga ini dan itu untuk membuang energinya yang berlebih, dipanggil ke sekolah karena anak memukul teman...atau kemarahan-kemarahannya yang lain saat emosinya belum terkendali.

Sampai akhirnya menemukan bidang yang ternyata sangat diminati putranya yang bisa membuat sang putra serius di satu titik itu.

Kenapa ini harus dia jalani?
Ya karena anak-anak autism itu punya kendala komunikasi ga seperti anak lain yang bisa dengan mudah mengutarakan keinginan bahkan berargumen tentang keinginannya.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana kah yang masih kau dustakan?

Belum lagi problem ketika anak beranjak remaja. Mereka ini cendrung fokus. Ketika menyukai seseorang ya terus saja suka yang itu. Ketika ternyata tidak diterima reaksinya benar-benar patah hati banget. Ini kan juga harus didampingi dan terus diyakinkan bahwa ada sisi lain selain cinta yang harus dia capai.

Untunglah kelebihan umum anak-anak autism ini ga punya dendam. Kalau dia sudah fokus ke yang lain dia ga peduli yang tidak jadi perhatiannya lagi.

Sekarang Irfan sudah menemukan passion-nya di bidang listrik. Panel suryanya sudah banyak laku terujual. Komunikasinya pun sudah baik sampai dia bisa presentasikan penjualan panel suryanya bukan cuma untuk rumah tangga bahkan perusahaan. Mungkin karena dia fokus di situ.

Itulah Irfan yang sekarang yang tak luput dari perjuangan "Super Mom"nya. Pernah dihujat orang, pernah disindir-sindir dan kesinisan lainnya.

Bagaimana dengan kita yang tak harus mengalami itu?

Apakah masih menjadi masalah ketika anak kita bukan juara kelas? Anak kita ga masuk sekolah unggulan, anak kita di jurusan yang ga keren....

Bersyukurlah ketika dia masih tetap anak yang baik yang santun yang berakhlak mulia meski ga unggul akademiknya.

Coba sama-sama kita simak kata-kata "Super Mom" ini.....
"Saya ga nuntut apa-apa untuk Irfan ini.... Dia bisa seperti sekarang ini udah sangat luar biasa. Saya cuma tekankan segi agamanya saja.... Karena apalagi yang akan ditanya nanti kalau kita sudah ga ada. Bekal apa yang udah saya siapkan untuk dia?"


Terimakasih untuk bu Ira sudah berbagi.
Saya tunggu foto-foto hasil karya Irfan, kincir air (udah berhasil membuat listrik nyala di ladang Sumedang), dan kincir angin yang on proses


Jakarta, akhir Januari 2018
Diana Bakti Siregar