Wuhan Spirit URAT55 Ubah Laku

Wuhan Spirit URAT55 Ubah Laku

Wuhan Spirit URAT55 Ubah Laku




Tak tahu apakah feeling atau sebentuk kekuatiran karena virus bisa saja bersemesta jagad raya; tapi di tengah "kepanikan" media dunia akan Virus di Wuhan, aku pun menulis puisi berjudul Urat55. Tentu saja ini di penghujung Tahun 2019.

Mengapa Urat55? Karena tanggal 2 Januari 2020 usiaku memasuki 55 tahun. Semakin tipis peluang bertahan hidup sebab umur (baca: kontrak hidup) semakin berkurang. 

Begini puisi Urat55 kubikin:

Urat55

Pipi merah merona songsong mentari pagi
Bibir nan ceria menguraikan kisah kasih
Kita berlari berkejaran di rerumputan hijau
Burung burung melompati dahan dibelai angin mendesau.

Aku tahu itu tak akan terulang
Hanya kuharap kau paham jalan pulang
Kau mulai mengembara cita gemilang
Hanya kuharap kau paham akan jalan pulang...


Biarkan aku menekuri jalan cerita ini
Engkaupun akan merasakannya kelak nanti
Betapa waktu makin mengerutkan canda tawamu
Menyisakan urat masa di ruang waktu kita

Engkau tahu pagi akan berlalu
Hanya kuharap kau paham jalan pulang
Kita jadi tahu hidup adalah waktu
Hanya kuharap kau paham akan jalan pulang

Tegakkan kaki melangkah temukan jati dirimu
Sisakan doa buatku sebelum lelap tidurmu..."

Aku bukanlah penyair, sastrawan, budayawan, musisi atau pun seniman, tetapi hanya seseorang seperti orang kebanyakan yang menjalani hidup lebih dari 54 tahun. 

Oleh karena perjalanan hidup maka justru aku melebihi penyair, sastrawan, budayawan, musisi, seniman yang hanya sebatas pentas, buku, literatur, majalah, perpustakaan, not balok, orkestra atau hanya sebatas ruang diskusi sampai gedung pertunjukan. Siapapun yang berusia 50 tahun ke atas adalah penyair atau musisi yang memiliki Pentas tiga perempat dunia fana ini. Kami hanya memiliki sisa sekitar seperempat dunia sebelum benar benar "turun panggung sebenar benar panggung" dunia ini, lantas istirahat di Syurga yang dijanjikan Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Penguasa Dunia Akhirat. Aamiin Allahumma Aamiin. 

Jadi, wajar saja jika puisi (katakanlah susunan kalimat) Urat55 sedikit mereview masa lalu... 


"...Pipi merah merona songsong mentari pagi
Bibir nan ceria menguraikan kisah kasih
Kita berlari berkejaran di rerumputan hijau
Burung burung melompati dahan dibelai angin mendesau... "

Sekaligus mengingat dan menyadarkan siapa saja yang lebih muda dariku; terutama anak dan menantu, bahwa hari ini apalagi kemarin akan berlalu, tak akan berulang... 

"...Aku tahu itu tak akan terulang
Hanya kuharap kau paham jalan pulang
Kau mulai mengembara cita gemilang
Hanya kuharap kau paham akan jalan pulang..."

Artinya, manfaatkanlah hari ini dan esok lusa untuk berjuang 'mengembara cita gemilang' sekaligus sadar bahwa jalan pulang kepada Sang Maha Pencipta harus benar dipahami dan dilakukan. 

Hal ini dipertajam di bait ketiga dan keempat, lalu ditutup dengan dua baris kalimat spiritual... 

"...Tegakkan kaki melangkah temukan jati dirimu
Sisakan doa buatku sebelum lelap tidurmu..."


Lagu. 
Agar puisi ini tidak hilang begitu saja, kuminta Ramadhan Syahputra yang terkenal dengan sebutan Atha, karena punya studio rekaman Atha Geebrec; Atha mungkin singkatan panggilan sayang Putra, untuk mengabadikannya dalam sebuah lagu. 

Lama baru jadi. Lama menunggu proses dimulai. Maklumlah namanya minta tolong. Gratis. Atha menganggap aku sebagai orangtuanya. Leader Maemino Band dan Pianis ini juga kuanggap sebagai anak. 

"Jadi om!"teriaknya dari dalam studionya, setelah beberapa saat dia lakukan take suaraku. Ternyata total prosesnya hanya sekitar satu jam saja. Alamakjang. 

Dan itu terjadi di bulan Februari 2020, sejak kumintai tolong di November 2019. Sudah melampaui Urat55 di 2 Januari 2020.

Karakter lagu bukan seperti dalam hayalanku, klasik atau balada. Yang jadi adalah Semi Reagge, ada unsur etnik Batak dan Melayu. 

"Bagus juga lagu ini buat gerak badan,"ujarku dalam hati dan kufollowup ke Johan Nasution Sekum ISORI (Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia) Asahan agar membuat gerak senam ringan sesuai lagu Urat55, tapi sampai hari ini belum rampung dengan alasan susah buat gerak karena beat lagu menggantung. 

Lagu Urat55 bisa disearch di akun youtube Inibabad Com dan NEHE G-Gem. 

Klip video aslinya digarap Ritchie Randy gitaris Maemino Band yang digawangi Atha. Ritchie sekarang aktif sebagai pegawai kantor desa dan semoga berhasil jadi Kepala Desa. Aamiin


Atha di studionya. .. 
"Terimakasih bang Atha atas lagu Urat55 dan semua semangat yang kau beri. Semoga Tuhan Yang Maha Adil menguatkan langkahmu mencapai cita cita gemilang. Aamiin Allahumma Aamiin.. "




Spirit. 
Aku yakin Atha di tengah kesibukannya berupaya memberi yang terbaik bagi Urat55. Hanya mereka piawai musik lah paham hal itu, tidak seperti aku yang musiman, bukan musisi. Musim nyanyi ya nyanyi nyanyi... 

Bagaikan sebuah skenario alam, lagu Urat55 yang diciptakan Atha tak hanya menjawab sebuah simbiosis; bahwa aku yang tua mendorong yang muda mencapai jati diri di samping ingat jalan pulang di sisi lainnya Atha mewakili yang muda mengingatkan yang tua bahwa boleh tua tapi semangat perjuangan harus tetap muda.

Lagu Urat55 ternyata juga ikut update perkembangan di tanah air pasca meledaknya virus paru di Wuhan, belakangan viral bernama singkat COVID19. Naikkan immunitas selain lewat makanan hal terpenting adalah olahraga. 

Urat55 (baca: umur 55) dibuat Atha sebagai lagu dinamik. Tidak mendayu, menghiba, pasrah layaknya orangtua nan lemah. Urat55 dengan tempo dinamis, bergelora, harmonis dengan lirik yang multi dimensi: 

Tegakkan Kaki Melangkah! 
Doakan Aku ya! 

Menurut Atha kepasrahan ini tak boleh diperparah lemahnya dengan irama lagu klasik, romantik atau istilah sekarang melow. Maka jadilah Urat55 berirama dinamis. 

Enak tak enak sekarang ada yang menggunakannya untuk senam di rumah. Bangun tidur sore atau saat berjemur ultraviolet. Banyak yang meminta copy audionya. Alhamdulillah. 

Artinya, Urat55 yang puisinya ditulis di tengah kepanikan media massa dunia akan Tragedi Wuhan, ternyata saat ini ikut mengisi ruang perubahan perilaku sehat sebagai jawaban atas dampak Covid19. 

Mari merubah perilaku lama yang selalu berkerumunan tak tentu bahkan cenderung mudarat dengan perilaku baru menguatkan silaturahmi dengan mengindahkan protokol kesehatan. 

Jika kemarin dan hari ini tak mungkin kembali, mari hari ini kita isi dengan perilaku aktif bermotivasi "Aku dan Keluarga Sehat maka Ummat akan selamat sentausa" menyambut kehidupan hari esok yang lebih berbahagia. 

Terimakasih kepada Atha dan semua anak anak muda yang terus menerus ikhlas bergaul bersama Om Nehe, Om Karim, Waka, Uwak, Om apalah apapun kalian sebut yang penting om tetap semangat berupaya menjadi penyemangat kalian kalian semua... 

Mari kita gelorakan Perubahan Perilaku Sehat agar kalian dan kita bisa bermusik, olahraga, berseni, berkerja, beribadah dan bergaul lebih sehat lagi. 

Hormat dari Urat55 yang sebentar lagi dengan Rahmat HidayahNya akan melangkah bahagia menjemput Urat56. Aamiin


*Nurkarim Nehe
Kamis 7 Nopember 2020, 14.48wib, hujan deras: setahun puisi Urat55.